ilustrasi perumahan di Finlandia, Eropa (pexels.com/Hert Niks)
Meski memiliki rasio utang yang sangat tinggi, bukan berarti masyarakat di negara-negara tersebut berada dalam kondisi keuangan yang rapuh, lho. Di Denmark dan Belanda, misalnya, tingginya utang rumah tangga diimbangi dengan aset pensiun yang besar, nilai properti yang tinggi, serta kekayaan finansial masyarakat yang juga relatif tinggi. Dengan kata lain, besarnya utang tersebut umumnya digunakan untuk membiayai kepemilikan aset yang nilainya juga terus bertambah dalam jangka panjang.
Kondisi ini berbeda dengan negara yang memiliki utang besar tapi gak didukung aset memadai. Karena itulah para ekonom bukan hanya melihat jumlah utang, tapi juga kemampuan masyarakat untuk membayar serta nilai aset yang dimiliki. Selama keseimbangan tersebut tetap terjaga, tingginya rasio utang belum tentu menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi.
Data terbaru Eurostat membuktikan bahwa peta utang rumah tangga di Eropa gak sesuai dengan anggapan banyak orang. Alih-alih berasal dari negara yang ekonominya lemah, rasio utang terbesar justru ditemukan di sejumlah negara paling makmur di kawasan tersebut. Sistem pembiayaan perumahan yang maju, kemudahan memperoleh kredit, dan tingginya nilai aset menjadi faktor utama di balik kondisi tersebut.
Jadi, saat melihat angka utang rumah tangga, kamu gak bisa langsung menyimpulkan bahwa suatu negara sedang mengalami masalah ekonomi. Memahami latar belakang di balik angka tersebut jauh lebih penting agar gambaran kondisi ekonominya menjadi lebih utuh.