ilustrasi bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)
Di tengah tekanan defisit bilateral dengan China, kinerja ekspor global Thailand secara keseluruhan sebenarnya mencatatkan pertumbuhan positif. Dilansir Xinhua, data Kementerian Perdagangan Thailand menunjukkan ekspor bulan Juli 2026 tumbuh 21,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 34,79 miliar dolar AS atau setara Rp615,26 triliun.
Pertumbuhan ekspor Juli 2026 tersebut menandai kenaikan selama 25 bulan berturut-turut, didorong permintaan global terhadap produk teknologi dan infrastruktur digital. Namun, impor global Thailand pada bulan yang sama juga melonjak 36,7 persen menjadi 38,40 miliar dolar AS atau setara Rp679,10 triliun, sehingga memicu defisit bulanan sebesar 3,61 miliar dolar AS atau setara Rp63,84 triliun.
Secara kumulatif dalam tujuh bulan pertama tahun 2026, ekspor global Thailand tumbuh 18,2 persen menjadi 231,53 miliar dolar AS atau setara Rp4.094,61 triliun. Pada periode yang sama, nilai impor global naik 37,8 persen menjadi 266,89 miliar dolar AS atau setara Rp4.719,95 triliun, yang menghasilkan total defisit perdagangan global sebesar 35,35 miliar dolar AS atau setara Rp625,16 triliun. Kementerian Perdagangan Thailand memperkirakan kinerja ekspor sepanjang tahun 2026 akan tumbuh antara 5 hingga 11 persen, didorong oleh kuatnya permintaan global terhadap produk berbasis kecerdasan buatan (AI).