Jumlah Utang Pinjol Naik 24,76 Persen, Capai Rp105,63 Triliun

- Outstanding pinjaman daring pada Juli 2026 tumbuh 24,76 persen secara tahunan menjadi Rp105,63 triliun.
- TWP90 industri pinjaman daring tercatat 4,32 persen pada periode yang sama.
- Pergadaian mencatat pertumbuhan pembiayaan 50,73 persen, sementara modal ventura dan LKM mengalami kontraksi.
Jakarta, IDN Times - Industri pinjaman daring (pindar) alias pinjaman online (pinjol) mencatat pertumbuhan outstanding atau nilai pembiayaan yang masih berjalan sebesar 24,76 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Nilainya mencapai Rp105,63 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman mengatakan tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 tercatat sebesar 4,32 persen pada periode tersebut.
"Pada industri pinjaman daring atau pindar outstanding pembiayaan pada juli 2026 tumbuh 24,76 persen year on year dengan nominal sebesar Rp105,63 triliun," katanya dalam konferensi pers secara daring pada Senin (7/9/2026).
1. Pembiayaan modal ventura turun 0,46 persen

Ilustrasi modal ventura. (Unsplash.com/Markus Winkler) Berbeda dengan pindar, Agusman memaparkan pembiayaan modal ventura mengalami kontraksi pada Juli 2026. Pembiayaan modal ventura adalah pembiayaan yang diberikan perusahaan modal ventura kepada perusahaan atau pelaku usaha.
Pembiayaan tersebut biasanya dalam bentuk penyertaan modal, pembelian surat berharga, atau pembiayaan untuk mendukung pengembangan usaha.
"Pembiayaan modal ventura pada Juli 2026 terkontraksi 0,46 persen year-on-year dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,32 triliun," ujar dia.
2. Pembiayaan pergadaian tumbuh 50,73 persen
Sementara itu, penyaluran pembiayaan industri pergadaian tumbuh 50,73 persen secara tahunan menjadi Rp160,78 triliun pada Juli 2026. Sebagian besar pembiayaan tersebut disalurkan melalui produk gadai.
"Dengan pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk gadai yaitu sebesar Rp136,39 triliun atau 84,83 persen dari total pembiayaan," tuturnya.
3. Pembiayaan LKM turun dan simpanan tumbuh

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat perannya dalam mendorong pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara berkelanjutan. (Dok. BRI) Pada industri lembaga keuangan mikro (LKM), penyaluran pembiayaan justru mengalami kontraksi 0,40 persen secara tahunan menjadi Rp1,05 triliun pada Juli 2026. Di sisi lain, simpanan pada industri LKM tumbuh.
"Simpanan tumbuh 8 persen year-on-year menjadi sebesar Rp0,63 triliun," kata Agusman.
4. Pembiayaan perusahaan tumbuh 2,01 persen

ilustrasi kelola modal (pexels.com/RDNE Stock project) Piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh 2,01 persen secara tahunan pada Juli 2026 menjadi Rp513,05 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat 6,32 persen secara tahunan.
Dari sisi risiko, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat 3,03 persen, sedangkan NPF net berada di level 0,81 persen.
Sementara itu, rasio utang terhadap modal (gearing ratio) perusahaan pembiayaan tercatat 2,10 kali. Angka tersebut masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan sebesar 10 kali.



















