Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kabar Merger MTEL-TBIG, Telkom Buka Peluang Kolaborasi

Kabar Merger MTEL-TBIG, Telkom Buka Peluang Kolaborasi
Telkom Hub, kantor pusat PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Telkom membuka peluang kolaborasi terkait isu merger Mitratel dan Tower Bersama Infrastructure, selama dapat memperbaiki lanskap industri menara telekomunikasi.
  • Menurut Telkom, konsolidasi perusahaan sejenis berpotensi meningkatkan efisiensi, mempercepat pemerataan akses digital, serta harus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi Mitratel dan grup.
  • Mitratel terus mengevaluasi pengembangan bisnis, sementara BP BUMN dan Danantara menyatakan pembahasan merger belum disampaikan karena aksi korporasi berada di level perusahaan dan induk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), Dian Siswarini buka suara soal kabar merger anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

MTEL dan TBIG bergerak di lini bisnis yang sama, yakni penyediaan infrastruktur telekomunikasi, salah satunya melalui penyewaan tower untuk operator telekomunikasi.

Dian mengatakan, pihaknya selalu terbuka pada kerja sama yang tujuannya memperbaiki lansekap industri telekomunikasi.

“Khususnya di bidang tower atau industri tower, Telkom Group melalui Mitratel itu selalu siap beradaptasi dan terbuka ke dalam setiap opportunity atau peluang untuk memperbaiki landscape industri tersebut,” kata Dian dalam konferensi pers public expose Telkom Indonesia, Senin (7/9/2026).

  1. 1. Dorong efisiensi industri

    CEO PT Telkom Indonesia (Persero), Dian Siswarini dalam acara Indonesia Summit 2026.
    CEO PT Telkom Indonesia (Persero), Dian Siswarini dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

    Menurut Dian, merger perusahaan dengan bisnis serupa akan mendorong efisiensi, yang merupakan fase alami dalam rangka pematangan industri atau penyehatan industri.

    “Jadi proses konsolidasi di dalam industri itu bisa mendorong terjadinya efisiensi yang lebih tinggi, juga membuka peluang kolaborasi atau kerja sama yang mempercepat pemerataan akses digital,” ucap Dian.

  2. 2. Harus ciptakan nilai tambah bagi grup Telkom

    PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup paruh tahun pertama 2024 dengan pertumbuhan positif. (dok. Telkom)
    Kantor pusat PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). (dok. Telkom)

    Dian mengatakan, aksi korporasi yang dilakukan anak usahanya tetap harus mempertimbangkan penciptaan nilai tambah jangka panjang, tak hanya bagi Mitratel, tapi juga pada grup Telkom Indonesia.

    LDirektur Keuangan Dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyaman menambahkan, pihaknya mengantongi kajian positif terkait merger bisnis menara telekomunikasi. Merger itu dinilai bisa mendorong operator seluler untuk semakin rasional, fokus pada profitabilitas dan pertumbuhan bisnis.

    “Kami melihat hal ini dapat mendorong kompetisi yang lebih sehat dan pertumbuhan industri yang semakin berkelanjutan. Ke depan, kami percaya bahwa inisiatif terkait simplifikasi produk di starter pack maupun renewal akan turut membawa industri ke arah yang lebih stabil meskipun kondisi makroekonomi tetap perlu diperhatikan,” ujar Daru.

  3. 3. Mitratel lakukan evaluasi berkala

    Kabar Merger MTEL-TBIG, Telkom Buka Peluang Kolaborasi
    Menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) . (dok. Mitratel)

    Sebelumnya, Telkom memastikan MTEL melakukan evaluasi secara berkala terkait upaya pengembangan bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang.

    Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan pembahasan merger MTEL dengan TBIG belum disampaikan kepada BP BUMN dan Danantara selaku pemegang saham Telkom Indonesia.

    Menurutnya, merger merupakan bagian dari aksi korporasi, yang pembahasannya berada di level perusahaan dengan induknya (TLKM).

    “Nanti saya cek ya. Nanti saya cek bagaimana, karena itu kan aksi korporasi kan. Bukan aksi pemegang saham, jadi kita mesti cek ke mereka,” kata Dony di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (31/8).

    Dony mengatakan, aksi korporasi merupakan strategi masing-masing perusahaan. Dia juga tak menampik peluang merger antara anak usaha BUMN itu dengan perusahaan swasta.

    “Mungkin saja kan, enggak ada masalah selama kalau itu bagian dari roadmap. Saya nggak tahu nanti saya mesti cek ke, pada dasarnya kan setiap perusahaan itu punya rencana kerja masing-masing kan,” ujar Dony.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More