ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Visual Karsa)
Meskipun menawarkan banyak keuntungan, kerja sama energi dengan Rusia gak sepenuhnya bebas hambatan. Pembayaran menggunakan dolar AS diperkirakan sulit dilakukan karena sebagian besar bank komersial masih berhati-hati terhadap transaksi yang berkaitan dengan Rusia. Kondisi tersebut membuat kedua negara harus mencari alternatif sistem pembayaran lain.
Jarak pengiriman minyak juga menjadi pertimbangan penting. Pengiriman minyak dari Sakhalin ke Indonesia membutuhkan waktu sekitar 15 hari dalam kondisi normal, meskipun beberapa pengiriman terakhir memerlukan waktu lebih lama. Sementara itu, pengiriman minyak dari pelabuhan Primorsk dapat memakan waktu hingga 50 hari.
Meski begitu, Indonesia bukan satu-satunya negara Asia Tenggara yang mulai melirik minyak Rusia. Filipina telah menerima beberapa pengiriman minyak Rusia sejak Maret 2026, sedangkan Vietnam juga dikabarkan tengah menjajaki peluang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa minyak Rusia kini semakin dipandang sebagai instrumen untuk menjaga ketahanan energi, bukan semata-mata komoditas yang harus dihindari.
Menurunnya produksi minyak nasional membuat Indonesia harus mencari cara agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi. Rusia menawarkan peluang menarik melalui pasokan minyak yang besar, harga yang berpotensi lebih kompetitif, serta kemungkinan kerja sama pembangunan infrastruktur energi.
Meski masih ada tantangan terkait pembayaran dan risiko geopolitik, langkah pemerintah mendekati Rusia menunjukkan bahwa keamanan energi kini menjadi prioritas utama. Jika kerja sama ini dapat dikelola dengan baik, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pasokan energi sekaligus mengurangi tekanan akibat ketergantungan impor dari pemasok tradisional.