Bahlil Sebut Lemigas Sudah Teken Kontrak Impor Minyak Rusia

- Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kontrak impor minyak Rusia telah diteken oleh Lemigas sebagai BLU di bawah Kementerian ESDM, dan kini menunggu proses teknis pelaksanaannya.
- Pemerintah memastikan kebijakan pembatasan BBM di Rusia tidak memengaruhi kerja sama impor karena kesepakatan dilakukan secara government to government antara Presiden Prabowo dan Presiden Putin.
- Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov menyatakan Rusia siap memasok energi ke Indonesia, namun masih menunggu rincian permintaan terkait jenis, volume, serta skema pengiriman dan pembayaran.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kontrak impor minyak dari Rusia sudah diteken. Pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Bahlil mengaku masih perlu mengecek perkembangan teknis terkait proses impor tersebut, termasuk mengenai jadwal kedatangan minyak ke Indonesia.
"Saya coba cek secara teknis ya, tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan, dilakukan oleh Lemigas, BLU daripada Kementerian ESDM," kata Bahlil kepada jurnalis di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
1. Bahlil pastikan kebijakan dalam negeri Rusia tak ganggu kerja sama

Bahlil memastikan kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang diterapkan Rusia di Moskow dan sekitarnya tidak mempengaruhi rencana impor minyak Indonesia dari negara tersebut. Menurutnya, kerja sama yang dijalin kedua negara tetap berjalan karena telah didasarkan pada kesepakatan antarpemerintah atau government to government (G to G) antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Kita kan sudah ada deal antara G to G dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo. Dan saya kan sudah juga melakukan komunikasi dengan Menteri ESDM Rusia," ujarnya.
2. Volume impor disebut masih bisa bertambah

Saat ditanya mengenai volume minyak yang akan diimpor, Bahlil mengatakan, jumlahnya masih berpotensi ditambah. Namun, dia belum merinci besaran volume dalam kontrak yang telah disepakati. Dia akan mengecek kembali detail perjanjiannya.
"Volumenya dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi ke depan, tapi kontraknya nanti coba saya lihat," kata mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.
3. Rusia tunggu permintaan rinci dari Indonesia

Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengatakan, negaranya siap memasok minyak dan gas ke Indonesia. Namun hingga kini, Rusia masih menunggu permintaan yang lebih spesifik dari Indonesia mengenai kebutuhan energi yang ingin dipenuhi.
Menurut Tolchenov, kerja sama di sektor energi pada prinsipnya dapat dilakukan, tetapi membutuhkan rincian yang jelas, mulai dari jenis minyak, volume yang dibutuhkan, hingga skema pengiriman dan pembayaran. Tolchenov menjelaskan, transaksi minyak dan gas merupakan kerja sama antarpelaku usaha atau business to business (B2B), sehingga harus didukung kebutuhan yang terukur dari calon pembeli.
“Sekarang counterpart Rusia nantinya adalah Lemigas. Tetapi sampai saat ini saya belum bertemu dengan siapa pun dari lembaga tersebut dan tidak ada pejabat Rusia lain di Jakarta yang juga telah bertemu mereka,” kata Tolchenov dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (24/6).













![[QUIZ] Pilih Ide Bisnis, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20240219/pexels-startup-stock-photos-7103-a56a4ee6b878557b98051ffe7f93ee25-bae414e6e8f3154ea4ce8f51e23c7387.jpg)
![[QUIZ] Tebak Mata Uang Negara Peserta Piala Dunia 2026, Bisa Benar Semua?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_0ec4a90b2e5fbf77cf66f98a1bef4b24_40640ec0-fd9c-4a32-8b31-d5256ea468fd.jpg)


