Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)
Diskusi panel menghadirkan Allison Cui, Vice President & General Manager Milliken, sebagai moderator, bersama tiga panelis, yaitu Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom; Eric Magno, Principal Aedas; dan Rochelle Lei, Senior Design Project Manager, Global Real Estate and Facilities (GREF) Amazon. Sementara itu, Joe Chu dari Steelcase turut berbagi perspektif melalui sesi presentasi riset dan tren workplace.
Lebih dari sekadar membicarakan desain kantor, konferensi ini mengangkat workspace sebagai bagian dari strategi bisnis yang berperan dalam mendukung kepemimpinan, meningkatkan pengalaman karyawan, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan lingkungan yang mendorong inovasi.
Salah satu sorotan penting dalam DFL Conference 2026 adalah bagaimana AI mulai mengubah ritme dan pola kerja manusia. Dalam sesi presentasi riset dan tren, Joe Chu dari Steelcase membahas bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi kebutuhan manusia terhadap lingkungan kerja.
Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)
Riset Steelcase yang menjadi salah satu landasan diskusi menyoroti pola kerja yang semakin berkembang, yaitu individu yang dapat bekerja secara mandiri dengan bantuan AI, kemudian kembali berkolaborasi dengan rekan kerja untuk meninjau, mempertanyakan, memvalidasi, dan menyempurnakan hasil yang dihasilkan teknologi.
Pola ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak serta-merta mengurangi kebutuhan akan interaksi antarmanusia. Sebaliknya, kolaborasi menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa hasil kerja tidak hanya efisien, tetapi juga relevan, akurat, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)
Dalam konteks tersebut, workspace perlu mengakomodasi dua kebutuhan yang saling melengkapi. Di satu sisi, karyawan membutuhkan ruang yang mendukung konsentrasi dan pekerjaan individual.
Di sisi lain, mereka tetap memerlukan lingkungan yang memungkinkan diskusi, pertukaran ide, evaluasi kritis, dan pengambilan keputusan bersama.
Perubahan ini menuntut organisasi untuk melihat kembali bagaimana workspace dirancang dan digunakan. Lingkungan kerja tidak cukup hanya menyediakan fasilitas untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga perlu mendukung perpindahan yang lebih fleksibel antara fokus individual dan interaksi kolaboratif.