Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DFL Conference 2026: Ini 3 Elemen Kunci Masa Depan Dunia Kerja
Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)
  • DFL Conference 2026 membahas perubahan kerja akibat AI, yang memungkinkan pekerjaan mandiri lebih cepat namun tetap membutuhkan kolaborasi untuk meninjau, memvalidasi, dan menyempurnakan hasil.

  • Adopsi AI menuntut penguatan kemampuan manusia seperti berpikir kritis, kreativitas, pembelajaran, kecerdasan emosional, dan kepercayaan, disertai ruang kerja yang mendukung kesejahteraan serta pemulihan energi.

  • Workspace masa depan dipandang sebagai komunitas fleksibel yang menghubungkan budaya, manusia, dan teknologi untuk mendukung fokus, kolaborasi, pengalaman karyawan, inovasi, serta strategi bisnis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DFL Conference 2026 membahas masa depan dunia kerja melalui keterkaitan budaya organisasi, peran manusia, teknologi AI, dan rancangan workspace.
  • Who?
    VIVERE Group, Fortune Indonesia, Allison Cui, Carlos Quaderi, Eric Magno, Rochelle Lei, dan Joe Chu terlibat dalam konferensi serta sesi diskusi dan presentasi riset.
  • Where?
    Lokasi penyelenggaraan DFL Conference 2026 per saat ini masih belum diketahui.
  • When?
    Konferensi bertajuk DFL Conference 2026 berlangsung pada 2026; tanggal pelaksanaannya hingga saat ini belum ada kepastian.
  • Why?
    Konferensi digelar untuk membahas cara organisasi memanfaatkan AI dan teknologi tanpa mengabaikan budaya kerja, kolaborasi, kesejahteraan, serta kebutuhan manusia.
  • How?
    Pembahasan dilakukan melalui diskusi panel lintas industri dan presentasi riset Steelcase mengenai pola kerja berbantuan AI, kebutuhan ruang fokus, kolaborasi, pembelajaran, interaksi sosial, dan pemulihan energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
AI mulai membantu orang bekerja lebih cepat. Di acara DFL 2026, orang dari Zoom, Amazon, dan perusahaan lain bicara soal kantor masa depan. Mereka bilang manusia tetap penting untuk berpikir, membuat ide, dan bekerja bersama. Kantor perlu punya tempat untuk fokus, ngobrol, belajar, dan istirahat. Budaya, manusia, dan teknologi harus jalan bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
DFL Conference 2026 menempatkan AI sebagai peluang untuk membangun kerja yang lebih seimbang, bukan sekadar lebih cepat. Dengan ruang kerja yang mendukung fokus, kolaborasi, pembelajaran, dan pemulihan energi, organisasi dapat menjaga peran penilaian manusia, kreativitas, serta hubungan sosial sambil memanfaatkan teknologi secara lebih tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan membawa perubahan mendasar terhadap cara manusia bekerja. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu dan kolaborasi panjang kini dapat dilakukan dengan dukungan teknologi yang semakin canggih.

Namun, di balik peningkatan efisiensi tersebut, muncul pertanyaan penting bagi organisasi, yaitu bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi sebuah organisasi?

Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus utama dalam Designed for Life (DFL) Conference 2026 melalui diskusi bertema “The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology.”

Diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung oleh Fortune Indonesia, konferensi ini mempertemukan perspektif lintas industri untuk membahas bagaimana budaya, manusia, dan teknologi dapat berjalan beriringan dalam membentuk masa depan dunia kerja.

1. Ketika AI mengubah cara manusia bekerja

Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)

Diskusi panel menghadirkan Allison Cui, Vice President & General Manager Milliken, sebagai moderator, bersama tiga panelis, yaitu Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom; Eric Magno, Principal Aedas; dan Rochelle Lei, Senior Design Project Manager, Global Real Estate and Facilities (GREF) Amazon. Sementara itu, Joe Chu dari Steelcase turut berbagi perspektif melalui sesi presentasi riset dan tren workplace.

Lebih dari sekadar membicarakan desain kantor, konferensi ini mengangkat workspace sebagai bagian dari strategi bisnis yang berperan dalam mendukung kepemimpinan, meningkatkan pengalaman karyawan, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan lingkungan yang mendorong inovasi.

Salah satu sorotan penting dalam DFL Conference 2026 adalah bagaimana AI mulai mengubah ritme dan pola kerja manusia. Dalam sesi presentasi riset dan tren, Joe Chu dari Steelcase membahas bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi kebutuhan manusia terhadap lingkungan kerja.

Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)

Riset Steelcase yang menjadi salah satu landasan diskusi menyoroti pola kerja yang semakin berkembang, yaitu individu yang dapat bekerja secara mandiri dengan bantuan AI, kemudian kembali berkolaborasi dengan rekan kerja untuk meninjau, mempertanyakan, memvalidasi, dan menyempurnakan hasil yang dihasilkan teknologi.

Pola ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak serta-merta mengurangi kebutuhan akan interaksi antarmanusia. Sebaliknya, kolaborasi menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa hasil kerja tidak hanya efisien, tetapi juga relevan, akurat, dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)

Dalam konteks tersebut, workspace perlu mengakomodasi dua kebutuhan yang saling melengkapi. Di satu sisi, karyawan membutuhkan ruang yang mendukung konsentrasi dan pekerjaan individual.

Di sisi lain, mereka tetap memerlukan lingkungan yang memungkinkan diskusi, pertukaran ide, evaluasi kritis, dan pengambilan keputusan bersama.

Perubahan ini menuntut organisasi untuk melihat kembali bagaimana workspace dirancang dan digunakan. Lingkungan kerja tidak cukup hanya menyediakan fasilitas untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga perlu mendukung perpindahan yang lebih fleksibel antara fokus individual dan interaksi kolaboratif.

2. Semakin canggih teknologi, semakin penting peran manusia

Joe Chu dari Steelcase turut berbagi perspektif melalui sesi presentasi riset dan tren workplace (dok. VIVERE Group)

Kemampuan AI untuk memproses informasi dan membantu menyelesaikan pekerjaan juga membawa perhatian baru terhadap kompetensi manusia.

Critical thinking, kreativitas, kemampuan belajar, kecerdasan emosional, dan kepercayaan menjadi semakin relevan ketika organisasi mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas sehari-hari.

Teknologi dapat membantu menghasilkan informasi dan rekomendasi, tetapi manusia tetap memiliki peran penting dalam mempertanyakan asumsi, menilai konteks, serta menentukan keputusan yang tepat.

Riset Steelcase yang dipresentasikan dalam konferensi turut menekankan pentingnya workspace yang mendukung pemikiran kritis, pembelajaran berkelanjutan, pemulihan energi, serta kebutuhan karyawan dengan tingkat kesiapan AI yang berbeda-beda.

Artinya, transformasi digital tidak dapat hanya berfokus pada penyediaan perangkat dan platform teknologi. Organisasi juga perlu memastikan bahwa karyawan memiliki kesempatan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan teknologi secara tepat, sembari tetap menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan.

Lingkungan kerja yang baik juga perlu memberikan ruang bagi karyawan untuk beristirahat dari paparan teknologi, memulihkan energi, dan membangun hubungan sosial. Dalam dunia kerja yang semakin terdigitalisasi, kesempatan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan berinteraksi secara langsung menjadi bagian penting dari pengalaman bekerja.

Dengan demikian, keberhasilan adopsi AI bukan hanya tentang seberapa cepat teknologi diterapkan, tetapi juga tentang seberapa baik organisasi mempersiapkan manusia untuk bekerja bersama teknologi tersebut.

3. Workspace sebagai komunitas, bukan sekadar tempat bekerja

Joe Chu dari Steelcase turut berbagi perspektif melalui sesi presentasi riset dan tren workplace (dok. VIVERE Group)

Perspektif lain yang diangkat dalam riset Steelcase adalah pendekatan Community-Based Design, yaitu gagasan bahwa workspace sebaiknya dirancang seperti sebuah komunitas yang memiliki beragam ruang untuk memenuhi kebutuhan berbeda, tetapi tetap terhubung dalam satu kesatuan.

Terinspirasi dari cara kota menghadirkan berbagai distrik untuk aktivitas yang berbeda, pendekatan ini melihat workspace sebagai lingkungan yang menyediakan pilihan ruang sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan penggunanya.

Ruang untuk fokus, area kolaborasi, tempat belajar, area interaksi sosial, hingga ruang untuk beristirahat memiliki fungsi yang berbeda. Namun, semuanya berkontribusi terhadap pengalaman kerja yang lebih menyeluruh.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa tidak ada satu jenis ruang yang dapat menjawab seluruh kebutuhan karyawan. Efektivitas workspace bergantung pada kemampuannya memberikan pilihan, mendukung beragam cara bekerja, dan memudahkan karyawan berpindah di antara aktivitas yang berbeda.

Lebih jauh, workspace sebagai komunitas tidak hanya berbicara tentang tata letak fisik. Konsep ini juga berkaitan dengan bagaimana ruang dapat memperkuat budaya organisasi, membangun rasa memiliki, dan menciptakan kesempatan bagi individu untuk saling terhubung.

Ketika karyawan memiliki ruang untuk berkolaborasi, berbagi pengetahuan, dan berinteraksi secara informal, workspace dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan yang mendukung inovasi dan kinerja organisasi.

4. Menghubungkan budaya, manusia, dan teknologi

Joe Chu dari Steelcase turut berbagi perspektif melalui sesi presentasi riset dan tren workplace (dok. VIVERE Group)

Pembahasan mengenai AI dan workspace pada akhirnya membawa diskusi kembali kepada tiga elemen utama dalam tema "DFL Conference 2026: The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology."

Budaya organisasi membentuk nilai, perilaku, dan cara orang bekerja bersama. Manusia membawa kreativitas, pengalaman, pertimbangan, dan kemampuan untuk membangun hubungan. Sementara itu, teknologi membuka peluang baru untuk meningkatkan efisiensi, memperluas kolaborasi, dan mendukung pengambilan keputusan.

Dan ketiganya tidak dapat berjalan secara terpisah. Teknologi yang canggih belum tentu menghasilkan perubahan yang efektif apabila tidak didukung budaya yang tepat dan kesiapan manusia untuk menggunakannya.

Demikian pula, budaya kerja yang kuat membutuhkan lingkungan dan perangkat pendukung agar dapat diterapkan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari.

5. Membangun workspace yang siap menghadapi masa depan

Acara Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan oleh VIVERE Group dan didukung Fortune Indonesia (dok. VIVERE Group)

Oleh karena itu, organisasi perlu memandang transformasi workspace sebagai bagian dari strategi bisnis yang lebih luas. Keputusan mengenai ruang kerja, teknologi, dan pengalaman karyawan perlu mempertimbangkan tujuan organisasi, karakteristik tenaga kerja, serta cara perusahaan ingin membangun budaya dan menciptakan nilai.

Bagi para pemimpin bisnis, hal ini berarti bahwa investasi workspace tidak seharusnya hanya diukur melalui efisiensi penggunaan ruang atau ketersediaan fasilitas.

Pertimbangan yang lebih luas mencakup bagaimana lingkungan kerja mendukung pengambilan keputusan, memperkuat kolaborasi, meningkatkan pengalaman karyawan, dan membuka peluang bagi pertumbuhan bisnis. (WEB/AMS)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Editorial Team

Related Article