Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dolar Perkasa, Kenapa AS Justru Minim Simpan Cadangan Devisa Negara?
ilustrasi Wall Street, New York, Amerika Serikat (unsplash.com/at)
  • Amerika Serikat hanya menempati peringkat ke-13 cadangan devisa dunia sekitar 244,6 miliar dolar AS karena dolar sudah menjadi mata uang utama global yang digunakan dalam berbagai transaksi internasional.
  • Negara lain perlu menyimpan banyak dolar untuk perdagangan dan stabilitas ekonomi, sementara AS diuntungkan karena permintaan tinggi terhadap dolarnya membuat mereka tak butuh cadangan besar.
  • Dominasi negara Asia dalam cadangan devisa dipicu pengalaman Krisis Keuangan 1997, mendorong mereka menimbun devisa besar sebagai perlindungan ekonomi dan penopang stabilitas keuangan jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau melihat daftar negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia, mungkin kamu bakal mengira Amerika Serikat (AS) ada di posisi teratas. Wajar saja, mengingat AS masih menjadi ekonomi terbesar di dunia dan dolar AS digunakan hampir di seluruh penjuru dunia.

Namun, berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) melalui database International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL), Amerika Serikat justru hanya berada di peringkat ke-13 dengan cadangan devisa sekitar 244,6 miliar dolar AS, atau sekitar Rp3.980 triliun (asumsi kurs Rp16.270 per dolar AS). Angka tersebut masih jauh di bawah China yang memiliki lebih dari 3,41 triliun dolar AS atau sekitar Rp55.481 triliun, bahkan kalah dari Jepang, Swiss, India, hingga Singapura.

Lalu, kenapa negara sekuat Amerika justru menyimpan cadangan devisa yang relatif kecil? Ternyata jawabannya berkaitan erat dengan posisi istimewa dolar AS dalam sistem keuangan global. Yuk, kita simak!

1. Dolar AS sudah menjadi mata uang andalan dunia

ilustrasi mata uang dolar AS (vecteezy.com/Vladislav Stepanov)

Banyak negara harus menyimpan cadangan devisa dalam bentuk mata uang asing agar bisa membayar impor, utang luar negeri, atau menghadapi gejolak ekonomi. Sebaliknya, Amerika Serikat gak menghadapi kebutuhan sebesar itu karena mata uangnya sendiri sudah menjadi mata uang cadangan utama dunia. Dolar digunakan dalam perdagangan internasional, investasi global, hingga menjadi aset yang disimpan oleh banyak bank sentral.

Efeknya, pemerintah AS gak perlu mengumpulkan cadangan mata uang asing dalam jumlah besar seperti negara lain. Ketika melakukan transaksi internasional, Amerika dapat menggunakan dolar yang memang sudah diterima secara luas.

Inilah alasan utama mengapa cadangan devisa AS yang sekitar Rp3.980 triliun terlihat jauh lebih kecil dibandingkan China yang mencapai sekitar Rp55.481 triliun atau Jepang dengan sekitar 1,26 triliun dolar AS setara Rp20.487 triliun, meskipun ekonomi AS tetap menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

2. Banyak negara justru membutuhkan dolar, bukan sebaliknya

ilustrasi mata uang yen Jepang dan dolar AS (pexels.com/Qing Luo)

Kalau sebuah negara ingin membeli minyak, bahan baku, atau melakukan transaksi lintas negara, sering kali pembayaran dilakukan menggunakan dolar AS. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar terus tinggi dari berbagai belahan dunia. Karena itulah Amerika Serikat gak perlu menyimpan banyak mata uang asing untuk memenuhi kewajiban internasionalnya.

Berbeda dengan negara-negara lain yang harus memiliki stok dolar dalam jumlah besar sebagai "bekal" menghadapi berbagai kondisi ekonomi, Amerika justru berada di posisi yang diuntungkan. Pemerintah AS juga membiarkan nilai tukar dolarnya bergerak mengikuti mekanisme pasar, sehingga gak perlu terlalu sering melakukan intervensi menggunakan cadangan devisa. Sistem ini sangat berbeda dengan banyak negara berorientasi ekspor yang aktif mengelola nilai tukar mata uangnya.

3. Negara Asia belajar dari krisis keuangan 1997

ilustrasi mata uang Renminbi, yuan (unsplash.com/Sergio Kian)

Dominasi negara Asia dalam daftar cadangan devisa terbesar ternyata bukan terjadi secara kebetulan, lho. Krisis Keuangan Asia pada 1997 menjadi titik balik yang membuat banyak pemerintah di kawasan tersebut mulai mengumpulkan cadangan devisa dalam jumlah besar. Saat itu, banyak negara mengalami pelemahan mata uang yang tajam, arus modal keluar, hingga harus meminta bantuan keuangan dari luar negeri.

Sejak peristiwa tersebut, banyak negara Asia memilih membangun cadangan devisa sebagai bentuk perlindungan diri. Cadangan devisa dianggap seperti dana darurat yang bisa digunakan ketika kondisi ekonomi memburuk. Berkat strategi itu, tujuh dari sepuluh negara dengan cadangan devisa terbesar saat ini berasal dari Asia, termasuk China, Jepang, India, Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, dan Taiwan.

Sebagai gambaran, India memiliki cadangan devisa sekitar 543 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.834 triliun, sedangkan Singapura menyimpan sekitar 419,3 miliar dolar AS atau setara Rp6.821 triliun. Negara-negara tersebut juga dikenal memiliki surplus perdagangan yang besar selama bertahun-tahun.

Ketika nilai ekspor lebih tinggi daripada impor, devisa yang masuk terus bertambah sehingga bank sentral dapat memperbesar cadangan mereka. Gak heran jika kawasan Asia kini menguasai sekitar dua pertiga cadangan devisa dunia.

4. Cadangan devisa ibarat dana darurat sebuah negara

ilustrasi mata uang asing (magnific.com/8photo)

Supaya lebih gampang dipahami, bayangkan cadangan devisa seperti tabungan darurat yang kamu simpan untuk menghadapi situasi tak terduga. Saat kondisi ekonomi global memburuk atau terjadi kepanikan di pasar keuangan, bank sentral dapat menggunakan cadangan tersebut untuk menjaga kestabilan nilai mata uang. Cadangan devisa juga dapat dipakai membayar impor barang penting, melunasi kewajiban luar negeri, serta meningkatkan kepercayaan investor.

Semakin besar cadangan devisa yang dimiliki sebuah negara, semakin besar pula kemampuannya menghadapi guncangan ekonomi tanpa harus bergantung pada bantuan negara lain atau lembaga internasional. Itulah sebabnya banyak negara berkembang terus berupaya meningkatkan cadangan devisa mereka sebagai bentuk perlindungan terhadap berbagai risiko ekonomi di masa depan. Cadangan devisa yang kuat juga dapat meningkatkan kepercayaan investor karena menunjukkan bahwa suatu negara memiliki bantalan keuangan yang cukup saat menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Namun, menyimpan cadangan devisa dalam jumlah besar juga memiliki konsekuensi. Dana tersebut umumnya ditempatkan pada aset yang sangat aman, seperti surat utang pemerintah dengan imbal hasil relatif rendah. Artinya, pemerintah harus menyeimbangkan antara manfaat memiliki "payung" saat krisis dan peluang menggunakan dana tersebut untuk investasi yang bisa memberikan keuntungan lebih tinggi.

5. Besarnya ekonomi gak selalu sejalan dengan cadangan devisa

ilustrasi mata uang Dolar AS (unsplash.com/Logan Voss)

Banyak orang menganggap negara dengan ekonomi terbesar pasti memiliki cadangan devisa terbesar pula. Padahal kenyataannya gak selalu demikian. Peringkat cadangan devisa lebih dipengaruhi oleh kebutuhan suatu negara dalam menyimpan mata uang asing, struktur perdagangan, kebijakan nilai tukar, hingga pengalaman menghadapi krisis ekonomi.

Amerika Serikat menjadi contoh paling jelas dari kondisi tersebut. Walaupun hanya berada di peringkat ke-13 dengan cadangan devisa sekitar Rp3.980 triliun, pengaruhnya terhadap sistem keuangan global tetap sangat besar karena dolar masih menjadi mata uang paling dominan di dunia.

Sebaliknya, Indonesia yang berada di peringkat ke-20 memiliki cadangan devisa sekitar 146,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.379 triliun, sementara China berada jauh di atas dengan cadangan lebih dari Rp55.481 triliun. Perbedaan ini menunjukkan besarnya cadangan devisa bukan hanya ditentukan oleh ukuran ekonomi, tapi juga strategi yang diterapkan masing-masing negara.

Dengan kata lain, besarnya cadangan devisa bukan satu-satunya ukuran kekuatan ekonomi suatu negara. Ada negara yang memilih menyimpan devisa dalam jumlah besar demi menjaga stabilitas, sementara ada pula yang gak perlu melakukannya karena mata uangnya sudah dipercaya dan digunakan oleh hampir seluruh dunia. Hal ini menunjukkan kebijakan cadangan devisa setiap negara disesuaikan dengan peran mata uang, kondisi ekonomi, serta strategi yang mereka terapkan dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Melihat Amerika Serikat berada di luar 10 besar negara dengan cadangan devisa terbesar memang terasa mengejutkan pada awalnya. Namun setelah memahami bagaimana peran dolar dalam sistem keuangan global, kondisi tersebut justru menjadi sangat masuk akal.

Di sisi lain, besarnya cadangan devisa negara-negara Asia yang nilainya mencapai puluhan ribu triliun rupiah menunjukkan bagaimana pengalaman masa lalu, terutama Krisis Keuangan Asia 1997, membentuk kebijakan ekonomi mereka hingga sekarang. Jadi, ketika melihat daftar cadangan devisa dunia, kamu gak hanya sedang melihat siapa yang paling banyak menyimpan mata uang asing, tapi juga memahami strategi ekonomi yang dipilih setiap negara untuk menjaga stabilitas dan menghadapi berbagai tantangan global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article