ilustrasi perusahaan Uber, perusahaan teknologi, taksi online, driver, transportasi di China (pexels.com/Neil Ni)
PHK dan perubahan sistem kerja ini memang menjadi langkah yang cukup besar, tapi Uber menyebut ada tujuan bisnis yang lebih luas di baliknya. Perusahaan ingin organisasi yang lebih ramping bisa menghasilkan penghematan sekaligus memberikan lebih banyak ruang untuk investasi. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pertumbuhan, inovasi, dan pengembangan kemampuan yang dianggap penting untuk beberapa tahun ke depan.
Langkah tersebut menjadi semakin menarik karena Uber sebelumnya menyatakan komitmen untuk menginvestasikan hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp177,8 triliun ke sektor kendaraan otonom. Perusahaan sendiri pernah menjual divisi kendaraan swakemudinya pada 2020, tapi kini kembali melihat teknologi tersebut sebagai peluang besar. Jadi, kalau kamu melihat keseluruhan strateginya, restrukturisasi ini bukan sekadar memangkas jumlah pekerja, melainkan juga bagian dari upaya Uber menyiapkan organisasi untuk mengejar peluang bisnis baru.
Pada akhirnya, keputusan Uber memperlihatkan bahwa pertumbuhan perusahaan gak selalu berarti jumlah karyawan harus terus bertambah. Ketika organisasi sudah terlalu kompleks, perusahaan bisa memilih merampingkan struktur agar pengambilan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih cepat.
Di sisi lain, perubahan seperti ini tentu membawa dampak besar bagi karyawan, terutama mereka yang harus meninggalkan pekerjaan remote. Langkah Uber juga menjadi gambaran bahwa kebijakan WFH yang sempat berkembang pesat setelah pandemi belum tentu menjadi pola kerja permanen di semua perusahaan.