Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ethiopian Airlines Alami Kerugian Rp2,3 Triliun imbas Perang AS-Iran
Ethiopian Airlines. (unsplash.com/iso_100)
  • Ethiopian Airlines rugi sekitar Rp2,3 triliun akibat pembatalan dan penundaan ratusan penerbangan imbas konflik antara AS, Israel, dan Iran di Timur Tengah.
  • Maskapai ini berupaya meminimalkan kerugian dengan mengalihkan rute penerbangan ke destinasi lain di Afrika, sementara maskapai kecil justru terdampak negatif oleh penutupan jalur ke UEA.
  • Dalam enam bulan terakhir, Ethiopian Airlines mencatat pendapatan Rp74,6 triliun dengan kenaikan 14 persen serta mengangkut lebih dari 10 juta penumpang dan 451 ribu ton kargo.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta IDN Times - Manajer Bisnis Ethiopian Airlines, Lemma Yachecha mengatakan bahwa perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran merugikan maskapainya sebesar 137 juta dolar AS (Rp2,3 triliun). Sebab, sejumlah penerbangan Ethiopian Airlines terpaksa dibatalkan. 

Tercatat sudah ada 15 pembatalan penerbangan setiap harinya imbas konflik di Timur Tengah. Sebanyak 160 penerbangan maskapai terbesar di Afrika itu sudah ditunda dalam sepekan akibat eskalasi konflik. 

1. Ethiopian Airlines tunda penerbangan regional

Ethiopian Airlines. (unsplash.com/pavanmgv)

Ethiopian Airlines mengungkapkan, kerugian ini tidak hanya disebabkan oleh perjalanan penumpang. Namun, konflik ini juga berdampak pada layanan kargo yang menjadi sumber pendapatan dari maskapai asal Ethiopia tersebut. 

Dilansir Business Insider Africa, maskapai itu berupaya memitigasi kerugian untuk mengalihkan rute penerbangan dari Timur Tengah ke destinasi lainnya. Langkah ini bertujuan untuk memanfaatkan operasional pesawat dan menambah pendapatan di tengah konflik. 

2. Berpotensi meraup keuntungan imbas konflik di Timur Tengah

Ethiopian Airlines. (unsplash.com/bornil)

Maskapai terbesar di Afrika, yakni Ethiopian Airlines dan Kenya Airways berpotensi meraup keuntungan imbas konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek. Kedua maskapai itu berhasil mengalihkan rute penerbangannya ke sejumlah destinasi di Afrika. 

Dilansir Zawya, langkah ini justru berdampak pada maskapai lebih kecil, seperti RwandAir, Uganda Airlines, dan Air Tanzania. Ketiga maskapai kecil tersebut mengalami kerugian besar imbas ditutupnya penerbangan ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). 

3. Ethiopian Airlines sukses raup Rp74,6 triliun dalam 6 bulan

Pesawat milik maskapai Ethiopian Airlines. (unsplash.com/bornil)

Pada Februari, Ethiopian Airlines berhasil meraup omset sebesar 4,4 miliar dolar AS (RP74,6 triliun) dalam 6 bulan. Angka ini menunjukkan kenaikan omset mencapai 14 persen dibanding periode sebelumnya. 

Maskapai utama Ethiopia tersebut sudah mengangkut 10,64 juta penumpang domestik dan internasional dalam 6 bulan. Dengan in, Ethiopian Airlines sudah memposisikan diri sebagai maskapai utama yang menghubungkan Afrika dan seluruh dunia. 

Sementara itu, operasi kargo masih menjadi yang utama bagi Ethiopian Airlines. Maskapai itu sudah mengangkut 451 ribu ton dalam 6 bulan dan menjadikan Addis Ababa sebagai pusat logistik di Afrika. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team