Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Faktor yang Memengaruhi Harga Obligasi di Pasar Sekunder
ilustrasi investasi (pexels.com/iam GOR)
  • Perubahan suku bunga pasar berlawanan arah dengan harga obligasi kupon tetap: suku bunga naik cenderung menekan harga, sedangkan penurunan suku bunga dapat mendorongnya naik.
  • Kondisi keuangan, risiko gagal bayar, dan kualitas kredit penerbit memengaruhi kepercayaan investor; memburuknya profil kredit dapat menurunkan harga karena pasar meminta imbal hasil lebih tinggi.
  • Jatuh tempo, ekspektasi inflasi, serta permintaan, penawaran, dan likuiditas menentukan sensitivitas serta pergerakan harga obligasi di pasar sekunder, termasuk efisiensi transaksi jual-beli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Obligasi sering dipilih investor sebagai instrumen investasi untuk memperoleh pendapatan berupa kupon dan mengelola risiko portofolio. Namun, harga obligasi tidak selalu tetap selama masa berlakunya karena dapat berubah ketika diperdagangkan di pasar sekunder. Perubahan tersebut bisa membuat investor memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian jika menjual obligasi sebelum jatuh tempo.

Harga obligasi di pasar sekunder dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pergerakan suku bunga hingga kondisi keuangan penerbitnya. Memahami faktor-faktor tersebut penting bagi investor yang ingin membeli atau menjual obligasi sebelum tanggal jatuh tempo. Lantas, apa saja faktor yang memengaruhi harga obligasi di pasar sekunder?

1. Perubahan suku bunga pasar

ilustrasi bank (pexels.com/Expect Best)

Suku bunga pasar merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi harga obligasi. Ketika suku bunga naik, obligasi lama dengan kupon tetap cenderung mengalami penurunan harga karena investor dapat menemukan obligasi baru yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, obligasi lama dengan kupon yang relatif tinggi cenderung menjadi lebih diminati sehingga harganya berpotensi meningkat.

Hubungan tersebut terjadi karena investor membandingkan imbal hasil obligasi yang sudah beredar dengan alternatif investasi yang tersedia. Sebagai contoh, obligasi dengan kupon tetap 6 persen dapat menjadi kurang menarik ketika obligasi baru dengan tingkat risiko serupa menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Meski demikian, besarnya perubahan harga juga bergantung pada jatuh tempo, karakteristik kupon, dan kondisi pasar obligasi tersebut.

2. Risiko gagal bayar penerbit obligasi

ilustrasi investasi kripto (pexels.com/energepic)

Kemampuan penerbit membayar kupon dan mengembalikan pokok utang turut menentukan harga obligasi di pasar sekunder. Jika kondisi keuangan penerbit memburuk, investor dapat menilai risiko gagal bayar meningkat sehingga meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi tersebut. Akibatnya, harga obligasi berpotensi turun ketika permintaan melemah atau investor meminta kompensasi risiko yang lebih besar.

Sebaliknya, perbaikan kinerja keuangan atau peningkatan kualitas kredit dapat mendukung kepercayaan investor terhadap penerbit obligasi. Informasi mengenai peringkat kredit, laporan keuangan, tingkat utang, dan kemampuan menghasilkan arus kas dapat membantu investor menilai risiko tersebut. Namun, peringkat kredit bukan jaminan pembayaran, sehingga perkembangan kondisi penerbit tetap perlu dipantau.

3. Jangka waktu hingga jatuh tempo

ilustrasi bayar biaya servis (pexels.com/pavel)

Jangka waktu hingga jatuh tempo memengaruhi sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan suku bunga pasar. Secara umum, obligasi berjangka panjang cenderung mengalami perubahan harga yang lebih besar dibandingkan dengan obligasi berjangka pendek dengan karakteristik serupa. Hal ini terjadi karena nilai pembayaran yang diterima pada masa mendatang lebih sensitif terhadap perubahan tingkat imbal hasil yang digunakan dalam penilaian obligasi.

Investor dapat menggunakan konsep durasi untuk memperkirakan seberapa sensitif harga obligasi terhadap perubahan imbal hasil. Obligasi dengan durasi lebih tinggi umumnya memiliki sensitivitas harga yang lebih besar terhadap perubahan imbal hasil, meskipun hasil sebenarnya juga dipengaruhi oleh karakteristik instrumen tersebut. Oleh karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan jatuh tempo dengan tujuan investasi dan toleransi terhadap fluktuasi harga.

4. Inflasi dan ekspektasi pasar

ilustrasi inflasi (pexels.com/Khancit Khirisutchalual)

Inflasi dapat memengaruhi harga obligasi karena perubahan tingkat kenaikan harga barang dan jasa berpengaruh terhadap daya beli serta ekspektasi suku bunga. Ketika inflasi diperkirakan meningkat, investor mungkin mengharapkan bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga. Ekspektasi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan menekan harga obligasi dengan kupon tetap.

Sebaliknya, ekspektasi inflasi yang menurun dapat mendukung harga obligasi jika pasar memperkirakan suku bunga akan turun. Namun, hubungan ini tidak selalu berlangsung secara langsung karena investor juga mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter, dan kondisi pasar global. Karena itu, perubahan ekspektasi pasar terkadang memengaruhi harga obligasi bahkan sebelum kebijakan suku bunga benar-benar diumumkan.

5. Permintaan, penawaran, dan likuiditas pasar

ilustrasi riset pasar (pexels.com/Vlada Karpovich)

Harga obligasi di pasar sekunder juga dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran dari para pelaku pasar. Ketika banyak investor ingin membeli suatu obligasi sementara jumlah penjual terbatas, harga dapat terdorong naik. Sebaliknya, tekanan jual yang lebih besar daripada permintaan dapat membuat harga obligasi melemah.

Likuiditas turut menentukan seberapa mudah obligasi diperjualbelikan tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar. Obligasi yang jarang diperdagangkan dapat memiliki selisih harga beli dan jual atau bid-ask spread yang lebih lebar, sehingga transaksi menjadi kurang efisien bagi investor. Sebelum membeli obligasi, periksa ketersediaan transaksi, harga penawaran, harga permintaan, serta biaya yang mungkin timbul saat menjualnya kembali.

Harga obligasi di pasar sekunder dipengaruhi oleh perubahan suku bunga, risiko kredit penerbit, jangka waktu hingga jatuh tempo, ekspektasi inflasi, serta kondisi permintaan dan penawaran. Kelima faktor tersebut saling berkaitan sehingga pergerakan harga obligasi tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui satu indikator. Memahami hubungan di antara faktor-faktor tersebut dapat membantu investor menilai risiko sebelum melakukan transaksi.

Faktor yang memengaruhi harga obligasi di pasar sekunder, seperti karakteristik instrumen, kondisi penerbit, tingkat imbal hasil, dan likuiditas pasar baiknya kalian periksa sebelum membeli maupun menjual obligasi. Penting juga untuk membedakan kupon yang dijanjikan dengan imbal hasil aktual jika obligasi dibeli atau dijual pada harga yang berbeda dari nilai nominalnya. Dengan analisis yang cermat, keputusan investasi obligasi dapat disesuaikan dengan tujuan keuangan dan kemampuan menghadapi risiko perubahan harga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article