Perang Iran Bikin Inflasi AS Mendidih, Suku Bunga The Fed Terancam Naik

- Inflasi tahunan AS naik menjadi 3,7 persen pada September 2026, dipicu lonjakan energi akibat konflik Iran serta Rusia-Ukraina; harga bensin dan solar meningkat tajam.
- Pemerintah AS mengawal tanker di Selat Hormuz dan melonggarkan sebagian sanksi Rusia, namun serangan kapal menekan transit minyak 54 persen dan menambah beban rumah tangga.
- Kenaikan biaya tempat tinggal, jasa, serta teknologi memperkuat inflasi; The Fed menghadapi pilihan menahan atau menaikkan suku bunga, sementara pasar saham melemah.
Jakarta, IDN Times – Laporan Departemen Tenaga Kerja Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Rabu (14/10/2026) mencatat inflasi tahunan Amerika Serikat (AS) naik menjadi 3,7 persen pada September dari 3,4 persen di Agustus. Angka tersebut menjadi rilis data ekonomi terakhir sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026 mendatang sekaligus memperbesar peluang kenaikan suku bunga bank sentral bulan ini.
Lonjakan inflasi bulanan sebesar 0,6 persen utamanya didorong sektor energi akibat tingginya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta Rusia dan Ukraina. Harga bensin melonjak 9,1 persen secara bulanan dan 34,2 persen secara tahunan, sementara bahan bakar minyak meroket 15,3 persen secara bulanan dan melampaui 74 persen secara tahunan.
Table of Content
1. Pemerintah AS upayakan kendalikan harga energi

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.) Dilansir dari CNN International, upaya pemerintah AS mengendalikan harga energi di jalur pasokan minyak telah berlangsung sejak sebulan lalu melalui bantuan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker keluar dari Selat Hormuz. Presiden Donald Trump juga mengumumkan kesepakatan pelonggaran sebagian sanksi Rusia demi membuka keran impor solar.
Layanan pelacak maritim Kpler melaporkan sedikitnya 18 kapal di sekitar Timur Tengah diserang dalam dua pekan terakhir. Dampaknya, transit minyak dan bahan bakar anjlok hingga 54 persen dari level pra-perang.
“Tampaknya Iran berusaha menjaga harga minyak tetap tinggi menjelang pemilihan paruh waktu, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah meningkatkan serangan - baik dari mereka sendiri maupun melalui Houthi,” kata Analis Kpler, Matt Smith.
Dampak konflik tecermin dari data Asosiasi Otomobil Amerika (AAA) yang mencatat rata-rata harga bensin harian mencapai 4,33 dolar AS (setara Rp77,5 ribu) per galon dan solar 6,29 dolar AS (setara Rp112,6 ribu) per galon. Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy, Patrick DeHaan, mengungkapkan sepanjang 2026 telah tercatat 158 hari dengan rata-rata harga bensin di atas 4 dolar AS (setara Rp71,6 ribu) per galon, menjadi jumlah terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lembaga riset Moody’s Analytics menaksir dampak perang Iran menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga AS sebesar 2 ribu dolar AS (setara Rp35,8 juta).
“Perang tanpa arah di Iran terus mengganggu rantai pasok global, mendorong naiknya harga pangan dan bahan bakar,” kata Kepala Ekonom Yayasan The Century (TCF), Kyle Moore kepada Al Jazeera.
2. Biaya tempat tinggal dan teknologi dorong kenaikan harga

Ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead) Kenaikan harga juga menjangkiti sektor non-energi. Biaya tempat tinggal tercatat naik 0,4 persen dibanding 0,3 persen pada Agustus, serta indeks seluruh jasa mengalami kenaikan 0,4 persen. Penyedia jasa seperti sanggar yoga dan perawat taman cenderung mempertahankan tarif yang telah dinaikkan sehingga membuat inflasi sektor jasa sulit turun.
Meskipun inflasi pangan secara keseluruhan stabil, terjadi dinamika harga pada rincian komoditasnya. Kenaikan harga makanan di luar rumah sebesar 0,2 persen diimbangi penurunan harga makanan di rumah sebesar 0,1 persen. Rinciannya menunjukkan kenaikan harga unggas 0,7 persen, buah dan sayur 0,5 persen, serta jus 1,1 persen, di saat harga susu turun 2,1 persen dan daging sapi turun 0,9 persen.
Di sektor teknologi, investasi pada infrastruktur akal imitasi (AI) turut memicu dorongan harga. Prinsipal Investasi Parabellum (PI), Rami Cassis menyampaikan, ledakan AI memainkan peran besar dan ratusan miliar telah digelontorkan ke pusat data, perusahaan kecerdasan buatan, dan model. Dampak dari gelombang investasi tersebut terlihat dari melonjaknya harga perangkat lunak dan aksesori komputer sebesar 28 persen secara tahunan.
3. Bank Sentral dan pemilih respons tekanan inflasi

ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com) Gejolak pasar energi berimbas pada peningkatan risiko geopolitik. Pendiri dan Kepala Investasi Mitra Energi Pickering (PEP), Dan Pickering, menyampaikan ketika AS menggembar-gemborkan keberhasilan mengeluarkan lebih banyak minyak mentah, hal itu seperti memakai tanda untuk diserang. Pickering juga menyampaikan Iran menyerang hampir semua pihak sementara proksinya Houthi menyerang Arab Saudi dengan hasil substansial, termasuk serangan terhadap markas raksasa minyak negara Saudi Aramco.
Bank sentral Cadangan Federal (The Fed) kini berhadapan dengan keputusan suku bunga yang dilematis. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas sebesar 52,9 persen bahwa suku bunga ditahan di kisaran 3,75–4,00 persen, dan peluang 47,1 persen untuk naik ke 4,00–4,25 persen. Angka ini menyusul langkah The Fed bulan lalu yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, pengetatan moneter pertama dalam tiga tahun.
Di ranah politik, jajak pendapat Reuters/Ipsos mencatat sekitar 78 persen warga AS menyalahkan kebijakan Presiden Trump atas lonjakan harga, termasuk terkait kebijakan tarif dan perang Iran. Tekanan ini langsung direspons negatif oleh bursa saham, di mana indeks Nasdaq melemah 0,8 persen dan Standard and Poor’s 500 turun 0,6 persen, sementara Dow Jones Industrial Average bergerak relatif datar pada perdagangan tengah hari.






















