Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inflasi AS Melampaui Ekspektasi, Bitcoin Tertekan hingga US$80 Ribu

4 min read
Inflasi AS Melampaui Ekspektasi, Bitcoin Tertekan hingga US$80 Ribu
ilustrasi uang dan Bitcoin (pexels.com/David McBee)
  • Inflasi AS September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan, melampaui perkiraan 3,6%; kenaikan bensin 9,1% bulanan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI.
  • Data inflasi memperkuat perhatian pasar pada peluang kenaikan suku bunga The Fed, setelah suku bunga acuan September naik menjadi 3,75–4,00%.
  • Bitcoin turun sekitar 3,2% ke US$80.791 pada 15 Oktober, sementara Ethereum dan Solana ikut melemah saat investor mengurangi eksposur aset berisiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga Bitcoin kembali mendapat tekanan setelah inflasi Amerika Serikat meningkat lebih tinggi daripada perkiraan pasar. Consumer Price Index atau CPI naik 3,7 persen secara tahunan pada September 2026, dibandingkan 3,4 persen pada Agustus. Perkembangan ini membuat investor kembali mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Tekanan tersebut terlihat pada perdagangan Bitcoin yang turun hingga kisaran US$80 ribu pada 15 Oktober 2026. Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga melemah ketika pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Berikut beberapa faktor yang perlu dipahami dari penurunan Bitcoin di tengah kenaikan inflasi AS.

  1. 1. Inflasi AS naik di atas perkiraan pasar

    ilustrasi uang dolar
    ilustrasi uang dolar (magnific.com/magnific)

    Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) melaporkan bahwa inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026, lebih tinggi daripada perkiraan ekonom sebesar 3,6 persen. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi mencapai 2,6 persen, naik dari 2,4 persen pada Agustus. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih menjadi perhatian, bahkan ketika kenaikan harga energi menjadi salah satu pendorong utama inflasi.

    Harga bensin meningkat 9,1 persen secara bulanan dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI pada September. Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya operasional berbagai bisnis. Jika tekanan harga bertahan, The Fed bisa menghadapi tantangan lebih besar untuk mengembalikan inflasi menuju target jangka panjang sebesar 2 persen.

  2. 2. Peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali disorot

    ilustrasi suku bunga
    ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026. Setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase pada September ke kisaran 3,75–4,00 persen, bank sentral AS masih harus menilai perkembangan inflasi dan kondisi tenaga kerja. Data terbaru membuat keputusan berikutnya semakin sulit karena pengendalian inflasi perlu dipertimbangkan bersama risiko perlambatan ekonomi.

    Bagi investor, suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, yang tidak memberikan bunga atau arus kas rutin. Meski demikian, kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya belum menjadi keputusan pasti karena bank sentral masih mempertimbangkan data ekonomi lainnya.

  3. 3. Bitcoin ikut tertekan saat investor mengurangi risiko

    ilustrasi investor
    ilustrasi investor (pexels.com/Gustavo Fring)

    Bitcoin termasuk aset yang pergerakan harganya dapat dipengaruhi perubahan sentimen investor terhadap risiko. Ketika prospek suku bunga meningkat, sebagian pelaku pasar bisa memilih mengurangi kepemilikan aset kripto dan mengalihkan dana ke instrumen lain. Tekanan jual tersebut dapat memperbesar penurunan harga, terutama ketika banyak investor mengambil keputusan dalam waktu berdekatan.

    Pada 15 Oktober, Bitcoin sempat turun sekitar 3,2 persen ke 80.791 dolar AS dalam perdagangan yang dilaporkan Investing.com. Pelemahan juga meluas ke aset kripto lain, termasuk Ethereum dan Solana, yang mencerminkan tekanan pasar yang tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Namun, penurunan harga dalam periode tersebut tidak berarti inflasi menjadi satu-satunya penyebab karena likuiditas, posisi perdagangan, dan sentimen pasar juga dapat memengaruhi pergerakan kripto.

  4. 4. Investor perlu memantau data inflasi dan keputusan The Fed

    ilustrasi hukum dan kebijakan
    ilustrasi hukum dan kebijakan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Pergerakan Bitcoin selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi AS serta petunjuk kebijakan moneter dari The Fed. Investor dapat memperhatikan data ekonomi berikutnya untuk menilai apakah tekanan harga mulai mereda atau justru meluas ke berbagai sektor. Perubahan ekspektasi suku bunga juga penting karena dapat memengaruhi minat pasar terhadap aset berisiko.

    Pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober 2026 menjadi salah satu agenda yang perlu dicermati, meskipun pasar juga mempertimbangkan kemungkinan perubahan suku bunga pada Desember. Jika inflasi tetap tinggi, kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dapat bertahan dan menekan sentimen terhadap Bitcoin. Sebaliknya, tanda-tanda meredanya tekanan harga dapat mengubah ekspektasi investor, tetapi tidak menjamin harga Bitcoin langsung pulih.

    Kenaikan inflasi AS ke 3,7 persen membuat prospek kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian pasar kripto. Bitcoin pun tertekan hingga kisaran 80 ribu dolar AS ketika investor menimbang kemungkinan suku bunga bertahan tinggi atau kembali naik. Karena itu, investor perlu memperhatikan data ekonomi dan kondisi pasar secara menyeluruh tanpa menganggap satu laporan inflasi sebagai penentu tunggal arah harga Bitcoin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More