Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Melemah Seharian, Ditutup pada Level Rp17.938 per Dolar AS

3 min read
Rupiah Melemah Seharian, Ditutup pada Level Rp17.938 per Dolar AS
ilustrasi lembaran uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)
  • Rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen ke Rp17.938 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026.
  • BI menyebut inflasi AS di atas perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta harga minyak tinggi akibat ketidakpastian Timur Tengah menekan rupiah.
  • Sentimen risk-off meningkatkan risiko arus modal keluar dari pasar berkembang, tetapi pelemahan rupiah kuartal berjalan terbatas 0,17 persen dan cadangan devisa September mencapai 146,3 miliar dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Kamis (15/10/2026) sore. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.938 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemeah 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Rupiah pada Rabu (/14/10) dittutup melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.900 per dolar AS.

  1. 1. Mata uang di Asia bergerak variatif

    Mayoritas mata uang tercatat menguat

    • Ringgit Malaysia menguat 0,07 persen 
    • Bath Thailand menguat 0,48 persen 
    • Yuan China menguat 0,06 persen
    • Rupee India menguat 0,19 persen
    • Pesso Filipina melemah 0,27 persen
    • Won Korea melemah 0,29 persen
    • Dolar Taiwan melemah 0,74 persen

  2. 2. Faktor eksternal mendominasi pelemahan rupiah

    Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G. Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kenaikan inflasi AS yang melampaui perkiraan pasar. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.

    Selain itu, ada faktor ketidakpastian dari penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel, kondisi ini meningkatkan risiko fiskal ke depan.

    "Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen," kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (15/10).

  3. 3. Ada peningkatan risiko arus modal asing keluar

    Memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus meningkatkan risiko arus keluar modal dari portofolio investasi di negara-negara berkembang (emerging markets). Tekanan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.

    Meski demikian, Erwin menegaskan bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,17 persen. Dari sisi eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih terjaga. Erwin menyebut, cadangan devisa tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

    Sementara itu, data cadangan devisa sepanjang Januari–Agustus 2026 menunjukkan tren penurunan pada awal tahun, sebelum berfluktuasi pada bulan-bulan berikutnya. Pada Januari, cadangan devisa tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 151,9 miliar dolar AS pada Februari dan 148,2 miliar dolar AS pada Maret.

    Penurunan berlanjut pada April menjadi 146,2 miliar dolar AS dan Mei sebesar 144,9 miliar dolar AS. Cadangan devisa kemudian meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni, turun tipis menjadi 145,3 miliar dolar AS pada Juli, sebelum kembali naik menjadi 146,5 miliar dolar AS pada Agustus.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More