Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga BBM di Inggris Melonjak Tajam akibat Krisis Minyak Dunia

Harga BBM di Inggris Melonjak Tajam akibat Krisis Minyak Dunia
Ilustrasi Bendera Inggris (freepik.com/gpointstudio)
Intinya Sih
  • Konflik militer di Iran memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan risiko krisis akibat ketegangan di Selat Hormuz.
  • Harga bensin dan diesel di Inggris naik tajam, menekan keuangan rumah tangga serta memicu perdebatan soal keuntungan berlebih perusahaan minyak.
  • Kenaikan harga energi memperbesar ancaman inflasi di Inggris, membuat pemerintah waspada terhadap dampak ekonomi dan berjanji menindak pelaku penimbunan keuntungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Inggris mengalami kenaikan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Data terbaru dari pemerintah menunjukkan adanya lonjakan biaya bahan bakar yang drastis hanya dalam kurun waktu satu minggu. Kondisi ini menjadi sinyal kuat akan adanya tekanan beban biaya hidup yang semakin berat bagi masyarakat luas.

Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya pengisian bensin maupun diesel bagi para pengguna kendaraan di seluruh Inggris. Meskipun pemerintah terus memantau situasi, lonjakan harga di pom bensin ini mulai menimbulkan kekhawatiran serius bagi jutaan rumah tangga yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas harian mereka di tengah ketidakpastian ekonomi global.

1. Konflik militer di Iran picu lonjakan harga minyak dunia dan ancaman krisis energi global

Ketegangan militer yang dimulai sejak serangan drone dan rudal Amerika Serikat (AS) serta Israel ke Iran telah mengguncang pasar energi dunia secara drastis. Serangan yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut langsung memicu serangan balasan ke berbagai wilayah, mulai dari Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, hingga Irak. Kondisi ini menimbulkan ketakutan besar akan penutupan total Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi 20 persen pasokan minyak dan gas cair dunia.

Akibat konflik ini, harga minyak mentah jenis Brent melonjak melewati 100 dolar AS (Rp1,68 juta) per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, bahkan sempat mencapai titik tertinggi di angka 119 dolar AS (Rp2 juta) per barel. Lembaga keuangan Goldman Sachs memperingatkan, jika jalur diplomasi tidak segera ditemukan, harga minyak bisa menembus 150 dolar AS (Rp2,53 juta) per barel pada akhir Maret 2026.

Ancaman keamanan di Selat Hormuz juga membuat biaya asuransi pengiriman barang naik tajam, sehingga banyak perusahaan kapal tanker takut melintasi wilayah tersebut. Goldman Sachs mencatat, pengiriman minyak melalui jalur penting ini merosot hingga tersisa 10 persen saja dari kondisi normal. Guncangan pasokan ini dinilai 17 kali lebih parah dibandingkan gangguan akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.

Meskipun Badan Energi Internasional (IEA) telah melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat untuk menenangkan pasar, kekhawatiran tetap tinggi karena jumlah tersebut dianggap belum cukup menggantikan hilangnya pasokan dari negara-negara Teluk.

2. Harga bensin dan diesel di Inggris naik tajam bebani biaya hidup warga

Data terbaru dari pemerintah Inggris menunjukkan, harga rata-rata satu liter bensin tanpa timbal melonjak menjadi 1,35 poundsterling (Rp30,52 ribu) dalam satu minggu terakhir. Kenaikan yang lebih parah terjadi pada harga diesel yang melonjak hingga 1,49 poundsterling (Rp33,69 ribu) per liter, yang merupakan lompatan harga terbesar sejak krisis energi pada 2022.

Kondisi ini membuat biaya untuk mengisi penuh tangki mobil keluarga meningkat sekitar 4,72 poundsterling (Rp106,72 ribu). Lonjakan ini memberikan tekanan keuangan yang berat bagi jutaan rumah tangga yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk beraktivitas setiap hari.

Kenaikan harga di pom bensin juga memicu perdebatan mengenai tindakan perusahaan minyak yang dianggap mencari keuntungan berlebih. Harga bahan bakar seringkali naik sangat cepat mengikuti harga grosir, namun turun sangat lambat ketika tekanan pasar mulai berkurang. Di beberapa tempat, harga bensin bahkan jauh melampaui rata-rata nasional, seperti di wilayah Glasgow yang mencapai 1,69 poundsterling (Rp38,21 ribu) dan di area jalan tol yang menembus angka 1,75 poundsterling (Rp39,56 ribu) per liter.

Situasi ini memaksa banyak keluarga di Inggris untuk mengatur ulang anggaran belanja mereka, terutama bagi warga yang tinggal di daerah yang minim akses transportasi umum. Kenaikan biaya transportasi yang mendadak ini secara langsung mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok lainnya. Jika harga energi global tidak segera stabil, daya beli masyarakat dikhawatirkan akan terus menurun seiring dengan biaya hidup yang semakin mahal.

3. Dampak krisis energi picu ancaman inflasi dan beban biaya hidup di Inggris

Lonjakan harga energi akibat konflik di Iran dikhawatirkan akan memicu gelombang kenaikan harga barang di Inggris, yang dapat mengganggu rencana penurunan suku bunga bank sentral serta menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Lembaga pengawas keuangan negara, Office for Budget Responsibility (OBR), memperingatkan jika harga energi tetap tinggi, tingkat kenaikan harga barang di akhir tahun bisa naik 1 persen lebih tinggi dari perkiraan awal. Kondisi ini membuat target inflasi yang semula dipatok sebesar 2 persen kini berisiko membengkak hingga menyentuh angka 3 persen sampai 5 persen.

Pemerintah Inggris di bawah pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan, pihaknya terus memantau dampak ekonomi dari perang ini terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Sementara itu, Menteri Keuangan Rachel Reeves berkomitmen untuk bertindak tegas terhadap para penjual bahan bakar yang sengaja mencari keuntungan berlebih di tengah kesulitan warga.

Meski Presiden AS, Donald Trump, sempat memberikan harapan perang bisa segera berakhir, kenyataan di lapangan menunjukkan serangan militer masih terus berlangsung. Bahkan, pihak Iran memberikan ancaman untuk menutup jalur energi secara tetap, yang semakin menambah kekhawatiran para pelaku usaha dan konsumen di Inggris.

Kondisi ini diperkirakan akan semakin berat karena tarif listrik dan gas untuk rumah tangga diprediksi melonjak hingga 10 persen pada musim panas mendatang akibat guncangan pasar dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More