G7 Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Darurat Imbas Konflik di Timur Tengah

- G7 sepakat mengambil langkah mendukung pasokan energi global, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat akibat konflik AS-Israel dengan Iran yang memicu lonjakan harga minyak.
- IEA menyerukan pelepasan cadangan minyak terkoordinasi, yang akan menjadi pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina 2022, guna menstabilkan pasar di tengah risiko pasokan yang meningkat.
- Perang di Timur Tengah menghambat jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz, menaikkan harga minyak hingga hampir 120 dolar AS per barel dan mengancam ekonomi global.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) telah sepakat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung pasokan energi global. Ini termasuk pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi, di tengah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran.
Pernyataan ini disampaikannya usai pertemuan daring para menteri keuangan G7 pada 9 Maret 2026, waktu Jepang, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pasokan minyak global. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol.
"IEA menyerukan kepada negara-negara anggota untuk segera melakukan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak mentah berjangka," kata Katayama kepada wartawan, dilansir NHK News pada Selasa (10/3/2026).
1. Jepang mengharapkan adanya pertemuan dengan para menteri energi G7

Katayama juga telah menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa sangat penting untuk menjaga pertukaran informasi di antara para menteri keuangan G7 karena situasi di Timur Tengah masih berubah-ubah. Ia mengatakan para menteri harus bekerja sama secara erat, guna menyampaikan pesan dan langkah-langkah yang diperlukan secara tepat waktu.
Katayama berharap negara-negara G7 akan segera mengadakan pertemuan di antara para menteri energi blok tersebut untuk membahas langkah-langkah konkret.
2. Jika cadangan minyak dilepaskan, akan menjadi yang pertama sejak agresi Rusia ke Ukraina pada 2022

Pada pertemuan tersebut, kepala IEA mengatakan bahwa pasar minyak global telah memburuk dalam beberapa hari terakhir. Birol menyebut, selain tantangan transit melalui Selat Hormuz, sejumlah besar produksi minyak telah dikurangi. Hal ini menciptakan risiko yang signifikan dan terus meningkat bagi pasar.
"Negara-negara anggota IEA saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel stok minyak darurat publik. Jumlah tersebut dengan tambahan 600 juta barel stok industri yang dipegang berdasarkan kewajiban pemerintah," kata Birol, dilansir BBC.
Jika cadangan tersebut dilepaskan, ini akan menjadi kali pertama sejak 2022 setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Sementara itu, Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mengatakan pada Senin (9/3/2026) bahwa negaranya menggunakan pertemuan para menteri G7 tersebut untuk mendesak de-eskalasi segera di Timur Tengah. Serta, menyerukan terjaminnya keamanan bagi kapal-kapal di wilayah tersebut. Reeves juga mendukung pelepasan cadangan minyak IEA secara terkoordinasi.
3. Perang di Timur Tengah mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi di seluruh dunia

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Namun, lalu lintas melalui jalur sempit itu hampir terhenti sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang meletus pada 28 Februari 2026. Kedua negara tersebut melancarkan gelombang serangan udara baru di seluruh Iran selama akhir pekan, menghantam berbagai target termasuk depot minyak. Sementara itu, Teheran menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk.
Akibat perang tersebut, harga minyak mencapai hampir 120 dolar AS per barel pada Senin karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan. Kemudian, terjadi penurunan tajam setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan harapan bahwa perang akan segera berakhir.
Gangguan besar terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah mengancam kenaikkan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia. Adnan Mazarei dari Peterson Institute for International Economics mengatakan bahwa lonjakan harga minyak sudah diperkirakan. Hal ini mengingat produksi telah dihentikan di beberapa negara Teluk dan tanda-tanda konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
















