ilustrasi pasar tradisional di India, crowd (pexels.com/Deepak ghoran)
Kalau kamu mengira masalah gula India hanya disebabkan kondisi dalam negeri, situasinya ternyata lebih luas. Pasokan gula global juga sedang menghadapi tekanan akibat cuaca buruk di sejumlah negara produsen utama. El Niño memengaruhi curah hujan di Thailand, hujan deras mengganggu panen tebu di Brasil, sementara gelombang panas berdampak pada tanaman bit gula di Eropa. Brasil sebagai produsen gula terbesar di dunia juga mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.
Tekanan tersebut ikut mendorong harga gula di pasar internasional. Perkiraan pemerintah Amerika Serikat menunjukkan produksi gula global musim ini dapat turun menjadi 184,9 juta ton dari rekor 186,1 juta ton pada musim sebelumnya. Kontrak gula putih London bahkan mencapai 541 dolar AS per ton pada pertengahan Agustus, level tertinggi sejak April 2025. Setelah India mengumumkan rencana impor, harga kontrak gula mentah New York juga sempat melonjak 4 persen dalam sehari.
Bagi India, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perkiraan produksi harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Mantan sekretaris Kementerian Pertanian India, Siraj Hussain, menilai perkiraan awal produksi tebu tak terwujud karena cuaca yang gak biasa dan penyakit pada beberapa varietas. Di sisi lain, pemerintah menyebut penyakit tebu dan genangan air akibat hujan berlebihan sebagai faktor yang ikut membuat produksi berada di bawah perkiraan.
Krisis gula India menunjukkan bagaimana perubahan cuaca, kebijakan ekspor, produksi etanol, sampai kondisi pasar global bisa saling berkaitan. Ketika produksi ternyata lebih rendah dari perkiraan, ruang untuk menjaga pasokan domestik menjadi semakin sempit karena konsumsi masyarakat tetap tinggi. Pemerintah pun harus mengambil langkah yang cukup drastis dengan membuka impor 1 juta ton setelah hampir satu dekade gak melakukan impor untuk kebutuhan dalam negeri.
Kalau harga gula tetap tinggi, petani dan pabrik gula memang bisa terdorong meningkatkan produksi pada musim berikutnya, tapi hasil panen tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, pelajaran terbesar bagi India adalah pentingnya membuat perkiraan produksi yang lebih akurat sebelum mengambil keputusan terkait ekspor maupun penggunaan tebu untuk etanol.