Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Bertahan Menguat hingga Penutupan ke Rp17.693 per Dolar AS

Rupiah Bertahan Menguat hingga Penutupan ke Rp17.693 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup menguat 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.693 per dolar AS pada perdagangan Jumat sore.
  • Meredanya aksi demonstrasi dinilai mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko domestik, meski ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas.
  • Pasar bersikap wait and see menanti pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, yang berpotensi memberi sinyal kebijakan moneter dan menopang dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (28/8/2026) sore. Rupiah parkir di level 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 51 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

  1. 1. Mayoritas mata uang bergerak variatif

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif , rinciannya:

    • Bath Thailand melemah 0,06 persen
    • Rupee India menguat 0,11 persen
    • Pesso Filipina melemah 0,41 persen
    • Won Korea menguat 10,15 persen
    • Dolar Taiwan menguat 0,08 persen
    • Yen Jepang melemah 0,16 persen

  2. 2. Rupiah menguat seiring demo yang mereda

    Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan penguatan nilai tukar rupiah karena meredanya aksi demonstrasi menjadi salah satu sentimen positif bagi pergerakan rupiah.

    Menurutnya berakhirnya demo dapat mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko domestik. Namun, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas.

    "Rupiah menguat terhadap dolar AS menyusul berakhirnya demo kemarin. Namun penguatan diperkirakan terbatas," ujar Lukman.

  3. 3. Investor tunggu pidato Gubernur The Fed

    Ia menjelaskan Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh menjadi perhatian pasar karena berpotensi memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Sejumlah pelaku pasar memperkirakan pidato tersebut dapat bernada hawkish, sehingga berpotensi kembali menopang dolar AS.

    "Investor cenderung wait and see menantikan pidato Warsh di Jackson Hole," kata Lukman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More