Ada Karhutla, Bos BEI Ungkap Dampaknya ke Bursa Karbon

- Karhutla telah menghanguskan lebih dari 200 ribu hektare lahan di Indonesia; 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen di luar kawasan hutan.
- BEI menyatakan karhutla berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon untuk perdagangan mendatang, karena unit yang diperdagangkan bergantung pada hasil periode tertentu atau vintage.
- Dampak karhutla belum dinilai signifikan. Hingga 30 Juni 2026, nilai transaksi bursa karbon masih di bawah Rp100 miliar, dengan 431 transaksi dan 155 pengguna.
Jakarta, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia telah menghanguskan lebih dari 200 ribu hektare lahan. Lebih parahnya lagi, menurut data Kementerian Kehutanan (Kemenhut), 57 persen lahan yang terbakar berada di kawasan hutan, dan 43 persen di luar kawasan hutan.
Dilihat dari sisi pasar karbon, hutan menjadi tempat penyimpanan cadangan karbon. Pasar karbon sendiri merupakan bagian terpending dari ekosistem bursa karbon (IDX Carbon) Indonesia. Lantas, bagaimana dampak karhutla pada bursa karbon?
1. Unit karbon yang diperdagangkan terdampak

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik mengatakan, bencana karhutla akan berdampak pada perdagangan karbon di bursa ke depannya. Sebab, perdagangan di bursa karbon bergantung pada unit karbon yang dihasilkan dalam periode tertentu, atau bersifat vintage.
Saat ini, karbon yang diperdagangan adalah unit yang sudah dihasilkan sebelumnya. Dengan adanya karhutla, jumlah unit karbon yang akan diperdagangkan ke depannya terdampak.
“Tentu yang diperdagangkan di bursa ataupun ketersediaan unit karbon di SRUK (Sistem Registri Unit Karbon) itu kan adalah vintage, artinya unit karbon yang sudah dihasilkan sebelumnya. Nah dengan adanya insiden kebakaran saat ini, tentu ini akan berdampak kepada ketersediaan unit karbon ke depan," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
2. Belum ada dampak signifikan

(Petugas BPBD Ogan Ilir saat memadamkan Karhutla di Sumsel) IDN Times/istimewa Meski begitu, menurutnya dampak insiden karhutla ke perdagangan karbon belum signifikan. Dia menyatakan, dampaknya pun perlu dihitung oleh lembaga yang kompeten dan berwenang.
“Seberapa besar tentu itu lembaga yang berkompeten untuk mengukur itu yang dapat nanti menyampaikan,” tutur Jeffrey.
3. Nilai transaksi bursa karbon masih di bawah Rp100 miliar

Ilustrasi Hutan Kalimantan (pexels.com/Reno Reno) Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi di bursa karbon sejak berdiri pada 26 September 2023 hingga 30 Juni 2026 masih di bawah Rp100 miliar. Frekuensi transaksinya selama hampir 3 tahun pun baru sebanyak 431 kali, dengan volume 1,98 juta ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen.
Adapun jumlah pengguna jasa bursa yang telah bertransaksi baru 155 pengguna.



















