Harga Gula India Melejit, Pemerintah Buka Keran Impor Setelah 10 Tahun

- Harga gula India naik hampir 40 persen dalam dua bulan menjelang musim festival dan pernikahan, saat konsumsi rumah tangga serta industri makanan-minuman meningkat.
- Produksi gula 2025-2026 diperkirakan 30,6 juta ton, sekitar 11 persen di bawah proyeksi awal, akibat cuaca tak menentu, gangguan tebu, ekspor, dan kebutuhan etanol.
- Pemerintah India membuka impor 1 juta ton gula, pertama dalam hampir satu dekade, untuk menambah cadangan domestik di tengah pasokan global yang turut mengetat.
Jakarta, IDN Times - India sedang menghadapi tekanan besar di pasar gula menjelang musim festival dan pernikahan yang biasanya membuat permintaan melonjak. Harga gula di sejumlah pasar bahkan naik hampir 40 persen hanya dalam waktu dua bulan.
Kondisi tersebut akhirnya membuat pemerintah India membuka keran impor gula sebanyak 1 juta ton untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Langkah ini dilakukan karena produksi dalam negeri diperkirakan lebih rendah dari perkiraan awal.
Di sisi lain, kebutuhan gula tetap tinggi karena konsumsi rumah tangga, industri makanan dan minuman, serta produksi etanol terus menyerap pasokan. Kalau kamu melihat situasi ini lebih jauh, ada beberapa alasan yang membuat India sampai harus mengandalkan gula dari luar negeri.
1. Harga gula melonjak menjelang musim festival

ilustrasi Diwali, festival di India, budaya India (unsplash.com/Bhargav Panchal) Kalau kamu melihat pergerakan harga gula di India, kenaikannya cukup signifikan. Pada Mei-Juni, harga gula sekitar 40-45 rupee per kilogram, atau sekitar Rp7.500-Rp8.400 per kilogram jika menggunakan kurs perkiraan Rp187 per rupee. Namun, pada Agustus harganya sudah menembus lebih dari 58-60 rupee per kilogram, setara sekitar Rp10.900-Rp11.200 per kilogram di sejumlah pasar. Artinya, dalam waktu sekitar dua bulan, harga gula naik hampir 40 persen. Meski mulai sedikit turun, level harganya masih cukup tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi ketika permintaan gula mulai memasuki periode sibuk. Mulai Agustus, sejumlah festival seperti Ganesh Chaturthi, Dussehra, dan Diwali biasanya mendorong konsumsi makanan manis. Setelah rangkaian festival tersebut, India juga memasuki musim pernikahan yang ikut meningkatkan kebutuhan gula. Perusahaan makanan dan minuman pun mulai menambah persediaan untuk menghadapi periode penjualan yang ramai.
2. Produksi gula ternyata lebih rendah dari perkiraan

ilustrasi tebu, bahan baku produksi gula (pexels.com/BULE) India sebenarnya bukan negara yang kekurangan kapasitas produksi gula. Negara ini dikenal sebagai konsumen gula terbesar di dunia sekaligus produsen gula terbesar kedua. Masalahnya, produksi pada musim 2025-2026 diperkirakan hanya mencapai 30,6 juta ton, jauh di bawah perkiraan awal pemerintah sebesar 34,3 juta ton. Kalau dibandingkan dengan proyeksi awal, produksi tersebut berarti sekitar 11 persen lebih rendah.
Penurunan produksi berkaitan dengan berbagai masalah yang terjadi di perkebunan tebu. Pemerintah India menyebut berkurangnya produksi tebu dipengaruhi curah hujan yang lebih rendah akibat El Niño, sementara penimbunan gula dan pasokan global yang semakin ketat turut memperburuk kondisi. Cuaca tak menentu juga berdampak pada wilayah penghasil tebu seperti Maharashtra, Uttar Pradesh, dan Karnataka. Tanaman tebu membutuhkan banyak air, sehingga hujan yang gak merata dan periode kering yang panjang bisa menekan hasil panen serta kandungan sukrosa.
3. Ekspor dan produksi etanol ikut mempersempit pasokan

ilustrasi tebu, bahan baku produksi gula (pexels.com/L. Lum) Salah satu persoalan yang membuat situasi India semakin rumit adalah perkiraan produksi yang ternyata meleset. Pemerintah sempat mengizinkan ekspor 1,5 juta ton gula pada musim ini, kemudian menambahkan kuota 500.000 ton pada Februari. Sebelum ekspor dihentikan pada Mei, hampir 800.000 ton gula sudah terlanjur dikirim ke luar negeri.
Menurut analis senior PhillipCapital India, Vikram Suryavanshi, perubahan dari mengizinkan ekspor hingga akhirnya harus mengimpor 1 juta ton menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar dalam perkiraan produksi. Kondisi ini menjadi masalah karena India sendiri hanya memiliki sedikit ruang untuk menghadapi kekurangan pasokan. Musim sebelumnya saja, konsumsi gula India sudah mencapai lebih dari 28 juta ton, sementara produksi tahun ini diperkirakan hanya sekitar 30,6 juta ton.
Pasokan juga semakin tertekan karena sebagian tebu dialihkan untuk menghasilkan etanol. Hampir 3 juta ton gula diperkirakan akan dialihkan untuk kebutuhan tersebut. Pemerintah sendiri mengatakan proporsi tebu yang digunakan untuk etanol turun dari 12 persen pada 2022-2023 menjadi sekitar 9 persen pada 2025-2026. Namun, ketika produksi gula sedang rendah, pengalihan bahan baku ke etanol tetap membuat persediaan gula menjadi lebih terbatas.
4. Impor dibuka untuk menjadi penyangga pasokan

ilustrasi gula pasir (vecteezy.com/MD. SAIDUR RAHMAN) Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah India membuka akses bagi impor 1 juta ton gula. Kebijakan ini menjadi cukup penting karena India terakhir kali mengimpor gula untuk konsumsi domestik hampir satu dekade lalu, ketika negara tersebut menghadapi kekeringan. Selama tiga bulan mulai 1 September, kilang gula di kawasan ekonomi khusus dekat pelabuhan diperbolehkan menjual gula bebas bea ke pasar domestik. Sebelumnya, kilang tersebut biasanya mengimpor gula mentah, mengolahnya, lalu mengekspornya kembali.
Menurut Atul Chaturvedi, direktur non-eksekutif Shree Renuka Sugars, impor tersebut dapat membantu menyediakan cadangan ketika pasokan dalam negeri sedang ketat. Selain impor, Indian Sugar Mills Association juga meminta pabrik gula memulai penggilingan tebu sekitar dua minggu lebih awal dari biasanya. Tujuannya untuk mempercepat masuknya stok baru ketika musim panen mulai tiba pada Oktober.
Namun, langkah tersebut belum tentu langsung menyelesaikan persoalan. Panen berikutnya juga menghadapi risiko karena kondisi cuaca masih tak menentu. Chaturvedi menilai musim berikutnya kemungkinan bukan menjadi panen besar, meskipun penilaian sebenarnya masih terlalu dini untuk dilakukan secara pasti.
5. Harga global ikut membuat situasi semakin sulit

ilustrasi pasar tradisional di India, crowd (pexels.com/Deepak ghoran) Kalau kamu mengira masalah gula India hanya disebabkan kondisi dalam negeri, situasinya ternyata lebih luas. Pasokan gula global juga sedang menghadapi tekanan akibat cuaca buruk di sejumlah negara produsen utama. El Niño memengaruhi curah hujan di Thailand, hujan deras mengganggu panen tebu di Brasil, sementara gelombang panas berdampak pada tanaman bit gula di Eropa. Brasil sebagai produsen gula terbesar di dunia juga mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.
Tekanan tersebut ikut mendorong harga gula di pasar internasional. Perkiraan pemerintah Amerika Serikat menunjukkan produksi gula global musim ini dapat turun menjadi 184,9 juta ton dari rekor 186,1 juta ton pada musim sebelumnya. Kontrak gula putih London bahkan mencapai 541 dolar AS per ton pada pertengahan Agustus, level tertinggi sejak April 2025. Setelah India mengumumkan rencana impor, harga kontrak gula mentah New York juga sempat melonjak 4 persen dalam sehari.
Bagi India, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perkiraan produksi harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Mantan sekretaris Kementerian Pertanian India, Siraj Hussain, menilai perkiraan awal produksi tebu tak terwujud karena cuaca yang gak biasa dan penyakit pada beberapa varietas. Di sisi lain, pemerintah menyebut penyakit tebu dan genangan air akibat hujan berlebihan sebagai faktor yang ikut membuat produksi berada di bawah perkiraan.
Krisis gula India menunjukkan bagaimana perubahan cuaca, kebijakan ekspor, produksi etanol, sampai kondisi pasar global bisa saling berkaitan. Ketika produksi ternyata lebih rendah dari perkiraan, ruang untuk menjaga pasokan domestik menjadi semakin sempit karena konsumsi masyarakat tetap tinggi. Pemerintah pun harus mengambil langkah yang cukup drastis dengan membuka impor 1 juta ton setelah hampir satu dekade gak melakukan impor untuk kebutuhan dalam negeri.
Kalau harga gula tetap tinggi, petani dan pabrik gula memang bisa terdorong meningkatkan produksi pada musim berikutnya, tapi hasil panen tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, pelajaran terbesar bagi India adalah pentingnya membuat perkiraan produksi yang lebih akurat sebelum mengambil keputusan terkait ekspor maupun penggunaan tebu untuk etanol.



















