Harga Minyak Dunia Melejit, Rupiah Babak Belur Lawan Dolar AS

- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp16.949 per dolar AS, turun 24 poin akibat tekanan pasar global dan lonjakan harga minyak dunia.
- Harga minyak melonjak lebih dari 30 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel karena konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN hingga mendekati 4 persen terhadap PDB, melebihi batas aman yang ditetapkan undang-undang.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026). Rupiah parkir di level Rp16.949 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengalami pelemahan sebesar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.925 per dolar AS. Rupiah sempat tertekan hingga 70 poin.
1. Harga minyak mendidih di tengah gejolak Timur Tengah
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pasar sedang dihantam lonjakan harga minyak hingga 30 persen, kini menembus 100 dolar AS per barel.
Angka tersebut mendekati rekor tertinggi pada awal perang Rusia–Ukraina pada 2022, menyusul serangan udara Israel dan Amerika Serikat ke fasilitas minyak Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal ke berbagai fasilitas minyak di Timur Tengah.
“Iran juga secara efektif memblokir Selat Hormuz dengan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran tersebut, menurut laporan. Selat tersebut merupakan sumber minyak utama bagi sebagian besar Asia, dan potensi penutupannya akan menyebabkan gangguan pasokan bagi sebagian besar wilayah tersebut,” katanya.
Selain itu, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, menjadi sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran, di tengah konflik dengan AS dan Israel.
2. Defisit APBN terancam bengkak akibat harga minyak
Lonjakan harga minyak dunia menyentuh rekor tertinggi sejak 2020 dan jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok 70 dolar AS per barel. Ibrahim menyebut kondisi itu bisa menaikkan defisit anggaran.
"Ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," tuturnya.
Angka defisit tersebut sangat berisiko karena melampaui batas aman 3 persen yang ditetapkan UU No. 17/2003, terutama karena lumpuhnya Selat Hormuz sebagai titik nadi yang melayani 20 persen suplai minyak dunia.
3. Rupiah terancam bertengger di level Rp17 ribuan
Melihat kinerja sejak awal tahun, rupiah saat ini mencatatkan pelemahan sebesar 1,61 persen. Sedangkan dalam kurun setahun terakhir atau 52 minggu, mata uang Garuda bergerak di rentang Rp16.079-Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa (10/3/2026), rupiah diprediksi tetap fluktuatif namun masih akan ditutup melemah. Rupiah diperkirakan akan bergerak pada rentang sensitif antara Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS.


















