Rupiah Sentuh Rp17.015 per Dolar AS akibat Sentimen Global-Domestik

- Rupiah sempat menembus Rp17.015 per dolar AS pada awal pekan, melemah sekitar 0,53 persen sebelum sedikit membaik di kisaran Rp16.984 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah dan koreksi IHSG dipicu kombinasi sentimen global, terutama eskalasi konflik Timur Tengah setelah terpilihnya Muqtaba Khomeini sebagai pemimpin baru Iran.
- Dari sisi domestik, kekhawatiran defisit anggaran akibat lonjakan harga minyak dunia membuat pasar bereaksi negatif dan memunculkan potensi pengurangan program pemerintah.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2026).
Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda sempat berada di kisaran Rp17.015 per dolar AS pada pagi tadi, turun 90 poin atau sekitar 0,53 persen dari penutupan Jumat pekan lalu di level Rp16.925 per dolar AS.
Hingga pukul 12.00 WIB, rupiah mulai membaik dan diperdagangkan sekitar Rp16.984 per dolar AS, turun 59 poin atau melemah 0,35 persen.
Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi hampir 5 persen pada awal pembukaan pasar.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal yang ekstrem di Timur Tengah, dan kekhawatiran fiskal di dalam negeri.
Menurut Ibrahim, faktor utama mempengaruhi pasar adalah terpilihnya Muqtaba Khomeini sebagai pemimpin baru Iran menggantikan Ayatollah Ali Khomeini.
Sosoknya yang dinilai fundamentalis diprediksi memperpanjang eskalasi konflik di Timur Tengah, ditambah dengan retensi keras dari pihak Donald Trump.
"Trump mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rezim yang ada di Iran. Ini yang membuat apa? Ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi berakibat terhadap penutupan Selat Hormuz," tegasnya.
Tak hanya itu, bahkan banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level 200 dolar AS per barrel, apabila dalam jangka waktu 1 bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah.
"Lonjakan harga minyak mentah yang kini berada di kisaran 117 dolar AS per barel dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi global yang serupa dengan 2008 akibat terganggunya jalur energi di Selat Hormuz," tegasnya.
Dari sisi domestik, pasar merespons negatif potensi membengkaknya defisit anggaran. Harga minyak dunia yang jauh melampaui asumsi "normal" pemerintah di level 92 dolar AS per barel kemungkinan akan memaksa pemerintah melakukan realokasi anggaran besar-besaran.
"Bahwa kemungkinan besar pemerintah akan mengalami defisit anggaran itu 3,6 persen. Nah ini pun juga sudah diinformasikan oleh Menteri Purbaya. Artinya apa? Ini yang kemungkinan besar pemerintah akan mengurangi anggaran untuk MBG (Makan Bergizi Gratis). Nah ini yang membuat ketegangan tersendiri carut-marut di dalam negeri dampak dari eksternal," tutur Ibrahim.


















