ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Jakub Pabis)
Minyak patokan internasional Brent tercatat turun 6,90 dolar AS atau setara Rp125.221, atau sekitar enam persen, ke posisi 106,50 dolar AS atau setara Rp1,93 juta per barel pada pukul 14.00 GMT. Sementara itu, minyak patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, turun 6,25 dolar AS atau setara Rp113.425, atau enam persen, menjadi 97,87 dolar AS atau setara Rp1,77 juta per barel. Penurunan terdalam Brent hingga menyentuh 105,55 dolar AS pada perdagangan intraday tersebut tercatat anjlok lebih dari 6,5 persen di tengah menguatnya harapan akan terobosan untuk mengakhiri perang Iran.
Penurunan harga minyak tersebut memicu harapan akan meredanya tekanan inflasi yang mencengkeram perekonomian global. Biaya pinjaman pemerintah turun, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris berkurang 10 poin basis atau 0,1 poin persentase ke level terendah sejak 22 September 2026.
Dilansir The Guardian, penurunan harga minyak ini turut mendorong penguatan saham maskapai penerbangan, dengan kenaikan saham induk British Airways, IAG, sebesar 4,2 persen di London dan United Airlines melonjak 7 persen di New York. Kepala Analis Pasar di platform investasi dan perdagangan IG Chris Beauchamp menyatakan bahwa pergerakan ini menjadi sentimen positif bagi bursa saham yang sebelumnya tertekan oleh kenaikan harga minyak.
"Berita ini bagaikan anugerah dari langit bagi pasar saham, yang semakin tertekan akibat kenaikan harga minyak, namun tentu saja masih ada risiko bahwa Trump akan mencoba mengambil langkah terakhir yang berisiko setelah pemilu sela," kata dia.