Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Holding Asuransi BUMN IFG Pangkas 12 Anak Usaha
Rapat koordinasi Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria dengan direksi Indonesia Financial Group (IFG). (Dok. BP BUMN)
  • IFG memangkas 12 anak usaha sebagai bagian dari program perampingan BUMN, menurunkan jumlah entitas dari 1.077 menjadi 350 perusahaan.
  • Langkah streamlining ini telah menghasilkan efisiensi biaya hingga Rp50 triliun dan ditargetkan berlanjut sampai Juli 2026.
  • Transformasi IFG difokuskan pada disiplin pengelolaan investasi dan manajemen risiko untuk mencegah kesalahan investasi akibat ketidakseimbangan antara aset dan kewajiban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Holding BUMN Asuransi, Penjaminan, dan Investasi Indonesia Financial Group (IFG) mengumumkan pemangkasan 12 entitas bisnis dalam ekosistemnya.

Pemangkasan itu merupakan bagian dari perampingan (streamlining) BUMN, dari 1.077 perusahaan menjadi 350 perusahaan.

1. Perampingan BUMN hasilkan efisiensi Rp50 triliun

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (Dok. BP BUMN)

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengeklaim hingga Juli 2026, sudah 250 entitas di ekosistem BUMN dipangkas.

Upaya itu, menurut Dony berhasil menghasilkan efisiensi biaya hingga Rp50 triliun.

2. IFG diminta lebih disiplin kelola investasi

Rapat koordinasi Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria dengan direksi Indonesia Financial Group (IFG). (Dok. BP BUMN)

Melalui transformasi holding dan program streamlining, IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat.

Dony mengatakan, langkah itu diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.

3. Investasi tidak seimbang jadi biang kerok persoalan asuransi BUMN

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (Dok. BP BUMN)

Dony mengatakan, transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi. Menurutnya, berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko perusahaan.

“Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Selama ini banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Inilah yang menyebabkan kita terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ujar Dony.

Curated For You

Editorial Team

Related Article