IEA Peringatkan Cadangan Gas Uni Eropa Terendah Jelang Musim Dingin

- IEA memperingatkan cadangan gas UE hanya terisi 72 persen menjelang musim dingin, jauh di bawah rata-rata 90 persen, sehingga Eropa rentan terhadap kenaikan harga.
- Gangguan pasokan akibat perang, termasuk serangan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, menekan impor LNG serta memicu risiko kekurangan solar di UE.
- Fatih Birol mengkritik lambatnya respons pemerintah; harga gas telah naik 140 persen sejak Februari, sementara dampak perang diperkirakan mengubah distribusi energi global.
Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan Uni Eropa (UE) memasuki musim dingin dengan cadangan gas jauh di bawah rata-rata historis. Agresi militer Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran yang mengganggu pasokan energi global membuat Eropa rentan terhadap kenaikan harga dan gangguan pasokan lebih lanjut.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Berlin pada Rabu (21/10/2026), Birol mengatakan di sela-sela konferensi internasional bahwa harga gas alam di Eropa berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang, bahkan jika perdamaian di kawasan Teluk Persia tercapai.
1. Cadangan gas Uni Eropa hanya 72 persen

ilustrasi bendera Uni Eropa (commons.wikimedia.org/Håkan Dahlström from Malmö, Sweden) Penyimpanan gas alam UE saat ini terisi 72 persen, turun dari tingkat yang biasanya mencapai 90 persen menjelang musim dingin. Menurut para analis, kekurangan tersebut setara dengan kebutuhan energi untuk memasok 10 — 12 juta rumah.
Birol mengatakan Eropa harus bersaing dengan negara-negara Asia untuk mendapatkan gas alam cair (LNG). Negara-negara Asia bahkan lebih bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
"Apabila kita mengalami musim dingin yang keras, kita mungkin akan melihat harga gas alam yang lebih tinggi di Eropa," tutur Birol kepada Al Jazeera.
Menurutnya, kehidupan tidak akan mudah bagi Eropa untuk tahun ini dan juga tahun depan.
2. Perang memperburuk gangguan pasokan energi

Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC) Sebelum perang, nyaris sepersepuluh pasokan LNG Eropa melewati Selat Hormuz. Akan tetapi, serangan Iran terhadap kapal-kapal di jalur tersebut telah menurunkan impor secara drastis. Gangguan di Selat Bab el-Mandeb kian memperparah situasinya.
UE turut menghadapi potensi kekurangan produk minyak olahan, termasuk solar yang digunakan dalam sektor transportasi truk, pertanian, dan industri. Birol mengatakan bahwa serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia juga berkontribusi terhadap ancaman kelangkaan solar. Menurutnya, sekitar sepertiga pengiriman dari Rusia telah terhenti.
Para menteri energi UE kini mempertimbangkan kemungkinan meminta rumah tangga dan pelaku usaha membatasi konsumsi energi, menurut sejumlah laporan berita.
3. Birol kritik lambatnya antisipasi krisis energi

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional Fatih Birol (x.com/fbirol) Birol mengkritik pemerintah yang dinilainya terlambat mengambil langkah dalam menghadapi risiko gangguan di Selat Hormuz. Ia mengatakan, negara-negara Timur Tengah kini membangun atau memperluas jalur pipa yang menghindari selat tersebut.
"Saya sangat kecewa karena pemerintah tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Sekarang, semua orang terburu-buru mengambil tindakan," ujar Birol.
Ia juga memperingatkan bahwa dampak perang akan terasa selama berbulan-bulan dan secara permanen mengubah jalur distribusi energi dunia. Menurut Birol, harga gas telah melonjak 140 persen sejak Februari, sedangkan minyak mentah Brent diperdagangkan jauh di atas 100 dolar AS (setara Rp1.809.745,12) per barel.
Birol berharap Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb segera dibuka tanpa syarat. Ia memperingatkan, pasokan energi global tidak mempunyai banyak cadangan penyangga untuk menghadapi guncangan lebih lanjut tanpa mendorong kenaikan harga.























