Saham AS Makin Diminati, Pintu Catat Pembeli NVDAX Naik 224 Persen

Minat pengguna terhadap saham dan ETF AS tertokenisasi naik pada kuartal III-2026, diikuti pertumbuhan trader aktif, transaksi, dan volume perdagangan.
Nvidia, Apple, Alphabet, Robinhood, serta Meta mencatat pertumbuhan pembelian atau volume perdagangan yang signifikan pada periode tersebut.
Pintu menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi, sementara kapitalisasi pasar aset tertokenisasi global mencapai sekitar Rp708,64 triliun.
Jakarta, IDN Times - Minat terhadap saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS) tertokenisasi meningkat pada kuartal III-2026. Data PT Pintu Kemana Saja (Pintu) menunjukkan, jumlah pengguna yang membeli aset tersebut naik 68 persen dibandingkan kuartal II-2026.
Platform investasi aset kripto itu mencatat jumlah trader aktif tumbuh 64 persen, transaksi meningkat 55 persen, dan volume perdagangan naik 51 persen. Pintu menilai peningkatan tersebut menunjukkan perdagangan aset tertokenisasi yang positif.
"Pertumbuhan ini menandakan pengguna platform PINTU semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan aset untuk membangun portofolionya," kata Presiden Direktur Pintu Andy Putra dalam keterangannya, Sabtu (22/10/2026).
1. Nvidia dan Apple jadi incaran investor

ilustrasi NVIDIA (Unsplash/Mariia Berezovsky) Nvidia (NVDAX) mencatat kenaikan jumlah pembeli sebesar 224 persen pada kuartal III-2026. Apple (AAPLX) menyusul dengan pertumbuhan 212 persen, Alphabet (GOOGLX) sebesar 131 persen, dan Robinhood (HOODX) sebesar 118 persen. Sementara itu, volume perdagangan aset tertokenisasi Meta (METAX) meningkat lebih dari 230 persen pada periode yang sama.
Saham dan ETF tertokenisasi merupakan representasi digital yang memberikan eksposur terhadap pergerakan harga aset dasar. Andy menjelaskan, pengguna dapat membeli aset tersebut dalam pecahan kecil menggunakan rupiah tanpa membuka rekening di perusahaan efek luar negeri.
Waktu perdagangan yang lebih panjang dibandingkan jam bursa reguler AS juga memungkinkan investor di Indonesia bertransaksi di luar jam perdagangan tersebut.
"Bahkan dari segi pajak sangat kompetitif hanya 0,21 persen pajak final yang menjadikan berbagai keunggulan tersebut membuat aset global mudah dijangkau oleh investor ritel, termasuk investor pemula," ujar dia.
2. Pilihan aset tertokenisasi mencakup ETF Asia hingga surat utang AS

Ilustrasi ETF (pexels.com/Markus Winkler) Andy mengatakan, per Oktober 2026, pihaknya menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi berupa saham AS, ETF, dan komoditas. Aset tersebut dapat dibeli mulai dari Rp11.000.
Selain itu, terdapat 10 aset tertokenisasi baru yang diterbitkan Ondo, terdiri dari sembilan ETF dan saham Micron (MUon). Pilihan tersebut mencakup ETF pasar Jepang, Korea Selatan, dan India, serta surat utang pemerintah AS jangka pendek atau US Treasury bills dengan tenor 0-3 bulan.
Aset baru tersebut dapat dibeli mulai dari Rp65.000. Saham Micron tertokenisasi bisa diperdagangkan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, sedangkan sembilan ETF lainnya tersedia selama 24 jam sehari dan lima hari seminggu.
"Jumlah pembeli SPDR Gold ETF juga turut naik lebih dari 170 persen pada kuartal III, yang menunjukkan ketertarikan pengguna terhadap eksposur emas di dalam portofolio mereka," tuturnya.
Andy menyebut kenaikan tersebut menunjukkan minat pengguna terhadap emas sebagai salah satu pilihan untuk diversifikasi portofolio. Pihaknya berencana memperluas pilihan aset tertokenisasi yang tersedia bagi pengguna.
3. Kapitalisasi pasar aset tertokenisasi global tembus Rp708 triliun

ilustrasi investasi (Pexels.com/nattanan23) Tokenisasi aset dunia nyata atau real world assets (RWA) berkembang seiring bertambahnya penerbit dan institusi keuangan yang membawa saham, ETF, serta surat utang ke infrastruktur blockchain.
Data platform analitik RWA.xyz mencatat kapitalisasi pasar aset tertokenisasi mencapai 39,26 miliar dolar AS per 20 Oktober 2026. Nilainya setara sekitar Rp708,64 triliun.
Andy menilai tokenisasi membuka akses bagi investor ritel untuk mendapatkan eksposur terhadap instrumen investasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, dia mengingatkan bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko berbeda.
"Oleh karena itu, investor perlu melakukan riset secara menyeluruh, memahami profil risiko masing-masing, serta mempertimbangkan tujuan investasi sebelum mengambil keputusan, agar dapat berinvestasi secara bijak," katanya.























