Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura Mulai Hari Ini

Indonesia mulai memangkas ekspor gas ke Singapura dari Natuna sebesar 15 BBTUD dan Sumatra sebesar 16 BBTUD.
Kebijakan tersebut hanya menyasar Singapura karena jalur pipa gas yang dimaksud terhubung ke negara itu.
Pemerintah mengevaluasi kontrak energi dan membuka peluang kerja sama baru dengan negara yang saling menghargai.
Jakarta, IDN Times - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan, Indonesia mulai memangkas ekspor gas ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026).
Pemangkasan pasokan tersebut mencakup gas dari Natuna sebesar 15 miliar satuan termal Inggris per hari (billion British thermal units per day/BBTUD) dan Sumatra sebesar 16 BBTUD.
"Kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” kata dia dikutip dari ANTARA, Sabtu (24/10/2026).
1. Pemangkasan ekspor gas hanya ke Singapura

ilustrasi pipa gas (pexels.com/David Brown) Mantan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) itu menyebut, kebijakan tersebut tidak menyasar negara lain. Pasalnya, jalur pipa gas yang dimaksud hanya terhubung ke Singapura.
“Nggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja,” ujar Djoko.
2. Pemerintah evaluasi kontrak ekspor energi dengan negara lain

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (YouTube/Kementerian ESDM) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan, akan mengevaluasi kontrak energi dengan negara lain. Evaluasi juga mencakup peluang menghentikan ekspor energi ke negara yang dinilai tidak menghargai Indonesia.
Bahlil menyampaikan hal tersebut saat peresmian penerimaan gas JNE#6 dan fasilitas produksi Lapangan Maha–South pada Kamis (22/10).
"Ya, saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," kata Bahlil, dikutip dari saluran YouTube Kementerian ESDM, Kamis (22/10).
3. Pemerintah buka peluang kontrak energi baru dengan negara lain

Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia. (IDN Times/Trio Hamdani) Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi menuturkan, pemerintah tetap membuka peluang kerja sama energi dengan negara yang memiliki hubungan baik dengan Indonesia.
Pemerintah juga bersedia membuat kontrak baru dengan negara yang belum memiliki kontrak energi dengan Indonesia. Menurut Bahlil, kerja sama tersebut dapat dilakukan selama kedua negara saling menghargai.
"Kalau negara-negara yang menghargai Indonesia, yang kita saling menghargai, maka sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka," ujar Bahlil.






















