IHSG Sempat Rebound Sebelum Tutup, Efek Suahasil Jadi Menkeu?

- IHSG sempat jatuh ke 6.371,4, lalu rebound hingga 6.550 menjelang pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, sebelum ditutup turun 0,1 persen di 6.534,69.
- Analis menilai respons pasar terhadap penggantian Purbaya Yudhi Sadewa cenderung positif-terukur, didukung rekam jejak Suahasil di Kemenkeu dan harapan kesinambungan kebijakan fiskal.
- Reshuffle bukan penggerak utama IHSG; tekanan eksternal, lonjakan minyak di atas 107 dolar AS per barel, kekhawatiran inflasi global, profit taking, dan volatilitas tetap dominan.
Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung bergerak di zona merah dengan pelemahan yang tajam hari ini, Senin (14/9/2026). IHSG bahkan sempat menyentuh level 6.371,4 pada pukul 15.02 WIB, setelah dibuka melemah pada level 6.533,87.
Menjelang pelantikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, IHSG sempat rebound ke zona hijau hingga akhirnya ditutup koreksi tipis ke posisi 6.534,69.
Benarkah reshuffle Kabinet Merah Putih secara mendadak sore ini mendorong rebound IHSG tersebut?
1. Pergantian Menkeu dorong IHSG rebound tajam

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S) Suahasil sendiri dilantik sekitar pukul 15.22 WIB. Namun, dia tiba di Istana Kepresidenan sekitar pukul 14.45 WIB. Terpantau grafik IHSG menanjak ke atas mulai pukul 15.05 WIB, dan menyentuh level tertinggi, yaitu 6.550 pada pukul 15.49 WIB.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat pelaku pasar merespons positif reshuffle kabinet tersebut.
“Terkait pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara, saya melihat respons awal pasar cenderung positif-terukur, bukan euforia,” kata Nafan Aji.
Senada dengannya, menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, rebound IHSG salah satunya dipengaruhi reshuffle kabinet tersebut.
“Iya, terpantau IHSG rebound tajam secepatnya berita penggantian Menkeu, walau masih ditutup di teritori negatif. Yang saya lihat adalah investor umummya kecewa dengan kepemimpinan Bapak Purbaya yang tidak jarang merespons gejolak pasar dengan statement yang tidak ideal. Begitu pula dengan kebijakan-kebijakan yang kontroversial,” tutur Lukman.
2. Suahasil bukan sosok asing di Kemenkeu

Suahasil Nazara resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Senin (14/9/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an) Kembali ke Aji, menurutnya, pelaku pasar menyoroti Suahasil sebagai sosok yang telah berkecimpung lama di Kemenkeu. Suahasil memang sudah menjabat sebagai Wamenkeu hampir tujuh tahun, terhitung sejak 2019.
“Sehingga kontinuitas kebijakan fiskal relatif lebih mudah dibaca. Pelaku pasar kemungkinan akan mencermati apakah pergantian ini mampu memberikan kepastian, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan fiskal, terutama terkait pengelolaan APBN, defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah, serta koordinasi fiskal-moneter,” kata Aji.
Sementara itu, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, pelaku pasar menitikberatkan pada kebijakan fiskal setelah reshuffle posisi menkeu. Sebelum mendapatkan kebijakan yang jelas, pelaku pasar akan tetap berhati-hati.
“Yang dilihat pasar sebenarnya bukan sekadar pergantian figur, tetapi bagaimana arah kebijakan fiskal setelah pergantian tersebut. Investor akan mencermati apakah ada perubahan dalam pengelolaan APBN, disiplin fiskal, kebijakan pembiayaan, hingga koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia,” tutur Elandry.
3. Reshuffle bukan faktor utama

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara hadir ke ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin Senin (14/9/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an) Akan tetapi, secara keseluruhan ketiga analis melihat reshuffle kabinet bukanlah faktor utama yang mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Nafan Aji mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi pendorong utama. Lonjakan harga minyak dunia yang melampaui 107 dolar AS per barel menjadi pendorongnya.
“Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher for longer, sehingga memicu aksi risk-off di pasar negara berkembang,” kata Nafan Aji.
Senada, Elandry mengatakan pelemahan IHSG sudah berlangsung sejak pekan lalu, terutama didorong volatilitas pasar karena faktor eksternal.
“Tekanan memang sudah terlihat sejak pekan lalu akibat profit taking dan meningkatnya volatility di pasar. Namun, pergantian Menkeu yang cukup mendadak sempat menambah ketidakpastian sehingga market sentiment dan risk appetite investor ikut terpengaruh,” ucap Elandry.
Sebagai informasi, pagi tadi, IHSG dibuka melemah 7,51 poin atau 0,11 persen ke level 6.533,87. Kemudian, pada penutupan perdagangan, IHSG melemah 6,69 poin atau 0,1 persen ke 6.534,69. Sementara pada perdagangan pekan lalu, Jumat (11/9), IHSG ditutup melemah 47,96 poin atau 0,73 persen ke 6.541,38.
















