Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Timur Tengah Makin Panas, Rupiah Tertekan ke Rp17.669

Timur Tengah Makin Panas, Rupiah Tertekan ke Rp17.669
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah 58 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.669 per dolar AS pada Senin.
  • Ancaman terhadap jalur pasokan minyak di Timur Tengah dan penundaan pertemuan Iran-negara Teluk menjadi perhatian pasar.
  • Pasar mencermati ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, sementara rupiah diproyeksikan fluktuatif pada perdagangan Selasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026). Rupiah parkir di level Rp17.669 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 58 poin atau 0,33 persen. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 60 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.611 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.608 per dolar AS. Sementara itu, rentang pergerakan rupiah sepanjang hari berada di kisaran Rp17.596-Rp17.675 per dolar AS.

  1. 1. Rupiah melemah di tengah jalur pasokan minyak yang terancam

    Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah berada dalam posisi untuk melancarkan serangan di Selat Bab el-Mandeb serta menyasar sejumlah fasilitas energi utama Arab Saudi.

    Hal itu menyusul serangan Houthi pada pekan lalu yang menyasar kilang dan terminal bahan bakar Aramco, fasilitas bahan bakar, bandara, serta kapal di kawasan Bab el-Mandeb.

    Menurut Ibrahim, kondisi tersebut mengancam jalur pasokan minyak penting di Timur Tengah. Sebab, pengiriman minyak Arab Saudi yang sebelumnya melewati Selat Hormuz kini banyak dialihkan melalui Selat Bab el-Mandeb.

    Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, pada Minggu (13/9/2026) menyampaikan pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk yang semula dijadwalkan pada Senin (14/9/2026) ditunda.

    Ibrahim menilai kabar pertemuan tersebut sebelumnya sempat meredakan kenaikan harga minyak karena memunculkan harapan adanya jalur diplomasi untuk mengurangi gangguan pasokan.

    Namun, penundaan pertemuan tanpa kepastian waktu pelaksanaan membuat ketegangan di Selat Hormuz masih berpotensi berlanjut.

    "Pasokan minyak melalui jalur tersebut telah menyusut drastis hingga jauh di bawah tingkat sebelum perang menyusul memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran pada bulan Agustus," kata Ibrahim.

  2. 2. Ekspektasi kebijakan The Fed jadi sorotan

    Dari sisi ekonomi global, Ibrahim mengatakan data inflasi AS pada Agustus 2026 menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen (CPI) inti sebesar 0,3 persen secara bulanan, di luar komponen pangan dan energi.

    Kenaikan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dalam pertemuan pekan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 mencapai 88 persen.

    "Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu, melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut," ujar Ibrahim.

  3. 3. Rupiah diproyeksi melemah lagi besok

    Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (15/9/2026) masih akan fluktuatif. Namun, rupiah berpotensi kembali melemah. Dia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.660-Rp17.710 per dolar AS pada perdagangan besok.

    Sementara itu, sejak awal tahun atau secara year-to-date (ytd), rupiah mencatatkan pelemahan sebesar 5,93 persen. Dalam 52 minggu terakhir, rupiah bergerak pada rentang Rp16.360-Rp18.209 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More