Laut Merah (AFRICOM Public Affairs Office, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Sebelum perang meluas, Arab Saudi mengandalkan Selat Hormuz sebagai pintu keluar utama untuk mengapalkan sebagian besar minyak mentahnya. Namun, lalu lintas kapal tanker di selat strategis tersebut merosot tajam sejak 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran. Korps Garda Revolusi Islam kemudian membalas dengan menyerang kapal-kapal komersial di perairan antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Demi menghindari ancaman di kawasan Teluk, Riyadh mengalihkan pasokan minyak melalui Jalur Pipa Timur-Barat menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Kendati demikian, rute pengiriman alternatif tersebut menghadapi hambatan baru setelah kelompok Houthi dari Yaman mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli. Kelompok tersebut menyebut blokade maritim itu sebagai front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Gangguan keamanan memaksa kapal-kapal tanker mematikan sinyal Automatic Identification System (AIS) guna mengurangi risiko serangan milisi. Dilansir Anadolu Agency, data pelacakan kapal mencatat pemuatan minyak mentah dan kondensat dari Yanbu merosot ke level terendah dalam enam bulan pada Agustus 2026, dengan estimasi Vortexa sebesar 3,2 juta barel per hari, sementara Kpler mencatat hanya 1,5 juta barel per hari. Sementara itu, perlintasan kapal di Selat Hormuz juga anjlok drastis menjadi hanya tujuh kapal pada Rabu dari rata-rata 14 kapal per hari dalam kurun 10 hari terakhir.