Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah telah mengalihkan sumber impor ke negara lain, seperti India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. Proses impor saat ini sudah berjalan, meski membutuhkan waktu untuk terrealisasi di dalam negeri.
Impor Plastik RI Tembus Rp44 Triliun pada Kuartal I-2026

- Impor plastik dan barang dari plastik Indonesia mencapai Rp44,11 triliun pada kuartal I-2026, naik 1,50 persen dengan volume 1,65 juta ton menurut data BPS.
- Indonesia masih bergantung pada pasokan nafta dari Timur Tengah yang terganggu akibat konflik geopolitik, sehingga pemerintah mencari alternatif impor dari India, AS, dan negara Afrika.
- Krisis bahan baku global membuat produsen plastik di Asia mengalami keterbatasan produksi dan force majeure, memicu kenaikan biaya logistik serta tekanan harga di tingkat produsen.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor plastik dan barang dari plastik Indonesia mencapai 2,55 miliar dolar AS atau setara Rp44,11 triliun (kurs Rp17.300 per dolar AS) sepanjang Januari–Maret 2026. Nilai tersebut naik 1,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, impor plastik dan barang dari plastik secara volume bahkan meningkat 7,42 persen menjadi 1,65 juta ton sepanjang Januari–Maret 2026.
“Impor plastik dan barang dari plastik tercatat sebesar 2,55 miliar dolar AS dengan volume 1,65 juta ton,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
1. Ada 3 negara favorit impor plastik China, Singapura dan Thailand

Meski demikian, khusus pada Maret 2026, impor plastik tercatat turun 14,96 persen menjadi 338,1 juta dolar AS. Adapun negara asal utama impor bahan baku plastik adalah China sebesar 34,79 persen, Singapura 12,35 persen, dan Thailand 11,65 persen.
Plastik dan barang dari plastik menjadi salah satu dari tiga komoditas utama nonmigas yang diimpor Indonesia sepanjang Januari–Maret 2026. Selain itu, komoditas utama lainnya adalah mesin/peralatan mekanis serta mesin/perlengkapan elektrik.
“Pada periode Januari–Maret 2026, nilai impor ketiga komoditas tersebut menyumbang sekitar 37,77 persen terhadap total impor nonmigas,” ucap Ateng.
2. Indonesia bergantung nafta dari Timur Tengah

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso sebelumnya menyampaikan, Indonesia selama ini sangat bergantung pada pasokan nafta dari Timur Tengah. Namun, konflik geopolitik di kawasan tersebut membuat distribusi terganggu dan memicu kenaikan harga.
"Jadi pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang menyuplai bahan baku, dan kita juga koordinasi dengan teman-teman di perwakilan supaya membantu juga mencarikan alternatif dari negara lain," ujarnya saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Nafta merupakan bahan baku utama dalam industri plastik. Bahan ini berasal dari hasil olahan minyak bumi yang kemudian diproses di pabrik petrokimia untuk menghasilkan zat dasar seperti etilena dan propilena. Selanjutnya, zat tersebut diolah menjadi berbagai produk plastik, seperti kemasan, botol, hingga bahan baku industri. Artinya, jika harga atau pasokan nafta terganggu, biaya produksi plastik akan ikut naik dan berdampak pada harga barang di pasaran.
3. Produsen plastik mulai keterbatasan bahan baku

Gangguan tersebut tidak hanya berasal dari sisi pasokan, tetapi juga dari distribusi. Jalur pengapalan yang terdampak konflik menyebabkan waktu pengiriman lebih lama dan biaya logistik meningkat, sehingga menekan harga di tingkat produsen hingga pedagang.
Di sisi lain, kondisi global juga memperburuk situasi. Sejumlah produsen plastik di negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura dilaporkan mengalami kendala produksi hingga force majeure akibat keterbatasan bahan baku.
"Produsen plastiknya di beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Singapura itu kan banyak yang force majeure ya. Jadi memang ini krisis global terkait dengan keterbatasan bahan baku," ucapnya.


















