Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Amblas, Makin Dekat ke Rp17.400 per Dolar AS

Rupiah Amblas, Makin Dekat ke Rp17.400 per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah 57 poin ke Rp17.394 per dolar AS, dipicu kontraksi PMI Manufaktur yang menandakan perlambatan aktivitas industri dalam negeri.
  • Ketegangan geopolitik Ukraina-Rusia dan Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak, meningkatkan inflasi global serta memperkuat dolar AS terhadap rupiah.
  • Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.390–Rp17.440 per dolar AS pada perdagangan Selasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah 8 poin dan bergerak ke level 36 poin di pertengahan sesi.

1. Kontraksi manufaktur bikin data neraca dagang tak berpengaruh

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan dari dalam negeri sebenarnya terdapat catatan positif di mana neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus selama 19 bulan berturut-turut.

Namun, kegoyangan pasar justru dipicu oleh rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang mengalami kontraksi atau berada di bawah level 50. Angka PMI di bawah 50 mengindikasikan terjadinya penurunan aktivitas atau perlambatan di sektor manufaktur.

Pelaku pasar memberikan perhatian lebih pada data PMI daripada neraca perdagangan karena kontraksi tersebut mencerminkan dampak dari mahalnya harga barang impor akibat kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya membebani sektor manufaktur dalam negeri.

"PMI Manufaktur Indonesia ini sangat penting sekali sehingga apa? Investor tidak melihat dari neraca perdagangan yang bagus, tetapi melihat dari data PMI Manufaktur Indonesia yang terjadi kontraksi di bawah 50 persen," katanya.

2. Geopolitik yang masih panas juga menekan rupiah

Pelemahan rupiah pada hari ini lebih lanjut didorong oleh faktor dari luar negeri. Ibrahim mencatat dua sentimen utama dari sisi geopolitik. Pertama konflik Ukraina-Rusia. Serangan drone jarak jauh dari Ukraina terus menargetkan dan membakar sejumlah kilang minyak di Rusia.

"Kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan," paparnya.

Kemudian ketegangan di Timur Tengah belum reda. Meskipun Presiden AS Donald Trump berniat membebaskan Selat Hormuz, Iran dinilai telah bersiap untuk menghadapi perang panjang, sehingga ketegangan di kawasan tersebut tetap terasa masif.

"Nah, di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi," ujar Ibrahim.

Akibatnya, bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mengambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Mei jika harga minyak tetap berada di atas level 100 dolar AS per barel, yang pada akhirnya memicu penguatan dolar AS.

3. Proyeksi pergerakan rupiah di perdagangan Selasa

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.394. Untuk perdagangan Selasa (5/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada rentang Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.

"Jadi kita akan melihat bagaimana ke depan tentang permasalahan di Timur Tengah yang kembali memanas," tutur Ibrahim.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More