Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Sinkronkan Kebijakan Likuiditas dan Suku Bunga, Ini Alasannya

3 min read
BI Sinkronkan Kebijakan Likuiditas dan Suku Bunga, Ini Alasannya
Media briefing Taklimat Media Bank Indonesia. (IDN Times/Triyan).
  • BI menyinkronkan penyesuaian likuiditas dan suku bunga untuk memperkuat transmisi moneter ke pasar uang, perbankan, aktivitas ekonomi, pertumbuhan, serta inflasi.
  • GWM bank konvensional turun dari 9 persen menjadi 7 persen, sedangkan bank syariah dan UUS dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen pada November–Desember 2026.
  • BI menaikkan Deposit Facility menjadi 5 persen dan memperkirakan penurunan GWM 1 poin persentase menambah likuiditas sekitar Rp90 triliun, demi ketahanan menghadapi tekanan global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyinkronkan kebijakan likuiditas dan suku bunga untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter ke pasar uang dan perbankan. Langkah ini dilakukan melalui penyesuaian Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap serta kenaikan suku bunga Deposit Facility.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan, penyesuaian kedua instrumen tersebut bertujuan menyelaraskan kebijakan operasi moneter dengan suku bunga acuan atau BI-Rate, kondisi likuiditas perbankan, serta pergerakan suku bunga pasar uang.

“Dengan demikian, transmisi kebijakan tersebut dapat berlanjut ke suku bunga perbankan, aktivitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi, hingga akhirnya memengaruhi inflasi,” ujar Firman dalam taklimat media di Gedung Thamrin BI, Jumat (23/10/2026).

  1. 1. Seimbangkan likuiditas perbankan dengan arah kebijakan suku bunga acuan.

    ilustrasi suku bunga
    ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    BI juga menyesuaikan GWM secara bertahap untuk menyeimbangkan likuiditas perbankan dengan arah kebijakan suku bunga acuan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan sasaran inflasi dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Sementara itu, ia menjelaskan, kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen merupakan bagian dari strategi operasi moneter untuk menjaga pergerakan Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) tetap simetris di dalam koridor suku bunga BI.

    Dengan BI-Rate sebesar 5,75 persen, koridor tersebut berada 75 basis poin (bps) di bawah BI-Rate, yang tercermin pada suku bunga Deposit Facility sebesar 5 persen, dan 75 bps di atas BI-Rate, yang tercermin pada suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 persen.

  2. 2. GWM turun bertahap

    ilustrasi seseorang yang menganalisis sebuah dokumen suku bunga menggunakan pena di atas meja
    ilustrasi seseorang yang menganalisis sebuah dokumen suku bunga menggunakan pena di atas meja (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

    Ia menjelaskan, GWM rata-rata bank umum konvensional (BUK) dari 9 persen menjadi 7 persen. Penyesuaian dilakukan dalam dua tahap, yakni penurunan 1 poin persentase dari 9 persen menjadi 8 persen mulai 1 November 2026 dan penurunan 1 poin persentase berikutnya menjadi 7 persen mulai 1 Desember 2026.

    Sementara itu, GWM rata-rata bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen. Penurunan dilakukan bertahap, masing-masing sebesar 1 poin persentase, mulai 1 November 2026 dan 1 Desember 2026.

    "Penyesuaian GWM tersebut dilakukan melalui perubahan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)," tegasnya.

    Adapun, rincian besaran insentif KLM diturunkan dari 6 persen menjadi 5 persen mulai 1 Desember 2026. Pada tanggal yang sama, bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM rupiah rata-rata yang memperoleh remunerasi dibatasi paling banyak sebesar 5 persen dari GWM rupiah rata-rata.

    “Penurunan GWM merupakan upaya untuk menyeimbangkan kembali likuiditas di pasar uang dan di perbankan,” kata Firman.

  3. 3. BI berharap sinkronisasi instrumen likuiditas dan suku bunga dapat membuat transmisi kebijakan moneter

    Logo Bank Indonesia
    Logo Bank Indonesia

    Ia menjelaskan, penurunan GWM sebesar 2 poin persentase terdiri atas dua komponen. Penurunan sebesar 1 poin persentase diperkirakan menambah likuiditas sekitar Rp90 triliun. Sementara itu, penyesuaian 1 poin persentase lainnya berkaitan dengan komponen kebijakan likuiditas yang memberikan fleksibilitas lebih besar kepada perbankan dalam memanfaatkan dana yang tersedia.

    “Kita turunkan 1 persen, dapat tambahannya sekitar Rp90 triliun. Jadi akan ada tambahan uang untuk mengembalikan dia ke dalam posisi yang dianggap konsisten,” ujar Firman.

    BI berharap sinkronisasi instrumen likuiditas dan suku bunga dapat membuat transmisi kebijakan moneter berjalan lebih efektif. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan operasi moneter di tengah ketidakpastian global, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal.

    “Ketika operasi moneternya sudah efisien dan transmisinya efektif, maka akhirnya kami akan siap bila tekanan global masih berlanjut,” tutur Firman.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More