Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Daftar Rambatan dari Rupiah Anjlok hingga Biaya  Hidup Naik
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik karena 70 persen impor Indonesia berupa bahan baku industri, memicu inflasi dan kenaikan harga barang di pasar domestik.
  • Daya beli masyarakat menurun akibat inflasi, sementara nilai riil uang berkurang sehingga kemampuan membeli kebutuhan pokok semakin terbatas.
  • Tekanan ekonomi berdampak pada investasi, transportasi, kesehatan, hingga kenaikan biaya hidup yang menggerus tabungan dan mempersempit ruang keuangan rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kondisi ekonomi yang bergejolak membuat masyarakat perlu semakin cermat dalam mengelola keuangan pribadi. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga meningkatnya biaya hidup dapat secara perlahan menggerus daya beli masyarakat.

Situasi ini membuat kemampuan menabung menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, memiliki tabungan dan dana darurat tetap penting untuk menjaga keamanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi.

Melansir situs resmi Prudential, masyarakat perlu menerapkan strategi menabung yang realistis dan konsisten agar kondisi keuangan tetap sehat.

Berikut adalah rantai dampak penurunan nilai Rupiah yang perlu diwaspadai:

1. Sebesar 70 persen struktur impor didominasi bahan baku industri

Ilustrasi impor. (Dok. Kemenkeu)

Mengingat sekitar 70 persen struktur impor Indonesia didominasi oleh bahan baku industri, pelemahan rupiah otomatis membuat biaya produksi pabrik-pabrik di dalam negeri meningkat.

Untuk mempertahankan operasional, produsen terpaksa akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga jual produk. Fenomena ini dikenal sebagai imported inflation, yaitu inflasi atau kenaikan harga di pasar domestik yang dipicu mahalnya barang dan bahan baku impor.

2. Menggerus daya beli uang tunai

Ilustrasi impor dan ekspor bawang putih (pexel.com/ Tom Fisk)

Dampak turunan dari inflasi tersebut adalah merosotnya nilai riil atau daya beli dari uang yang kita miliki. Sederhananya, jika tahun lalu uang Rp100 ribu bisa digunakan untuk membeli lima keranjang kebutuhan pokok.

Namun, saat ini dengan nominal yang sama, Anda mungkin hanya mendapatkan tiga keranjang. Uang Anda tidak hilang secara nominal, tetapi kemampuannya dalam menukar barang telah berkurang akibat melemahnya mata uang.

3. Dampak terhadap investasi dan arus modal

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Saat nilai tukar rupiah terus merosot terhadap dolar AS, iklim investasi di dalam negeri ikut mengalami guncangan. Investor asing cenderung menarik modalnya dari pasar keuangan domestik (capital outflow) dan mengalokasikannya kembali ke aset yang dianggap lebih aman.

Bagi pasar saham dan obligasi dalam negeri, fenomena ini bisa memicu penurunan sentimen pasar. Sementara bagi pelaku bisnis lokal, hengkangnya arus modal ini membuat akses pendanaan untuk ekspansi usaha menjadi lebih ketat dan mahal.

4. Lonjakan biaya transportasi dan sektor kesehatan

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Sektor transportasi dan kesehatan adalah dua bidang yang paling rentan terkena dampak langsung dari penguatan dolar AS. Di sektor transportasi, kenaikan harga minyak dunia yang digabungkan dengan pelemahan rupiah secara otomatis mendongkrak biaya operasional (seperti harga suku cadang impor dan bahan bakar minyak).

Bergeser ke sektor kesehatan, sekitar 90 persen bahan baku obat-obatan dan alat medis di Indonesia masih mengandalkan impor. Akibatnya, masyarakat harus bersiap menghadapi potensi kenaikan tarif transportasi serta biaya medis.

5. Harga BBM akan naik

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Rehia Sebayang)

Indonesia tercatat masih negara net importer minyak, biaya subsidi energi (BBM dan listrik) juga ikut melonjak.

Jika ruang fiskal negara semakin tertekan, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit, yakni menambah utang baru atau melakukan penyesuaian harga subsidi di tingkat masyarakat.

6. Terjadi kenaikan biaya hidup

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)

Akumulasi dari seluruh dampak tersebut mulai dari kenaikan harga pangan, mahalnya biaya transportasi, hingga potensi lonjakan biaya kesehatan akan bermuara pada tekanan terhadap keuangan rumah tangga masyarakat.

Ketika biaya hidup pokok membengkak sementara pendapatan bulanan cenderung stagnan, pola keuangan konvensional pun bisa berantakan. Dana yang biasanya dialokasikan sejak awal bulan untuk tabungan, dana darurat, atau dana pensiun, kerap terpaksa habis hanya untuk menutupi kebutuhan operasional sehari-hari.

Editorial Team

Related Article