Ekonom: Level Rp18.000 per Dolar AS Makin Dekat

- Ekonom Wijayanto Samirin memprediksi rupiah segera menembus Rp18.000 per dolar AS akibat menurunnya kepercayaan publik dan lemahnya respons pemerintah terhadap krisis ekonomi.
- Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup melemah 52 poin ke level Rp17.796 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan dari hari sebelumnya.
- Pelemahan rupiah turut dipicu ketegangan geopolitik setelah serangan militer AS ke Iran selatan yang mengguncang stabilitas gencatan senjata dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin memperkirakan pelemahan rupiah ke arah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) semakin dekat.
Hal itu disampaikan Wijayanto kepada IDN Times, menanggapi kondisi pelemahan rupiah yang saat ini sempat menyentuh level Rp17.800-an.
"Kalau melihat trennya, 18.000 akan terjadi dalam waktu dekat. Permasalahannya adalah trust kepada pemerintah yang terus merosot. Pemerintah dinilai belum mempunyai sense of crisis dan masih dalam situasi denial," ujar Wijayanto, Selasa (26/5/2026).
1. Blunder kebijakan

Wijayanto menambahkan, kondisi tersebut semakin diperparah oleh kebijakan konkret di bidang fiskal yang masih belum terlihat untuk memastikan defisit terkontrol.
Di sisi lain, Wijayanto turut menyoroti banyaknya blunder kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto justru semakin memperkeruh kondisi perekonomian.
"Berbagai blunder kebijakan, seperti pembentukan badan ekspor (PT DSI) dan flip-flop terkait kebijakan DHE, memperburuk situasi," kata dia.
2. Rupiah kembali melemah pada Selasa ini

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026). Rupiah nyaris menyentuh Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup merosot 52 poin atau sebesar 0,29 persen ke level Rp17.796 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga 55 poin dari posisi penutupan kemarin di level Rp17.744.
3. Gencatan senjata AS-Iran goyang akibat serangan baru

Pelemahan rupiah dipicu memanasnya situasi geopolitik global setelah militer AS meluncurkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan pada Senin malam.
Pihak Washington mengklaim tindakan tersebut sebagai upaya bela diri dan menyatakan gencatan senjata tetap berlaku, meski respons Teheran belum dapat dipastikan.
"Namun, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," kata Pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi.
Ketidakpastian di lapangan menahan penurunan harga minyak mentah, walaupun harga sempat merosot tajam pada hari Senin.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemajuan negosiasi dengan mengklaim Iran akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, walaupun Teheran membantahnya dengan menyatakan tetap terbuka untuk berunding.


![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Kepribadian Introvert](https://image.idntimes.com/post/20240320/clay-banks-ox6sw103ktm-unsplash-474ffad107d58aa54aa53e1b1d562a46.jpg)


![[QUIZ] Dari Kebiasaan saat Bekerja, Cek Karakter di Kartun Spongebob yang Mirip Denganmu](https://image.idntimes.com/post/20240625/img-2981-cae273e9ac29bf8e6dd9c631e437a1aa.png)











