Rupiah Melemah, Defisit APBN 2026 Berpotensi Makin Lebar

- Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya impor minyak dan gas, sehingga kebutuhan subsidi energi pemerintah untuk BBM dan gas ikut bertambah.
- Tekanan belanja akibat rupiah dapat memperlebar defisit APBN 2026 yang diproyeksikan 2,85 persen PDB, terutama bila kurs melampaui asumsi Rp16.800 per dolar AS.
- Bank Indonesia menyatakan akan menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental ekonomi domestik, yang dinilai relatif baik dibandingkan negara pembanding.
Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pasalnya, depresiasi rupiah dapat meningkatkan beban subsidi energi, terutama bahan bakar minyak (BBM), seiring dengan ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan gas (migas).
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan pelemahan rupiah akan membuat biaya impor minyak dan gas semakin mahal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran pemerintah untuk menanggung selisih harga energi melalui subsidi.
"Ketika rupiah melemah, harga BBM dan gas akan semakin tinggi. Maka, beban subsidi untuk menanggung kenaikan harga juga akan meningkat," kata Nailul kepada IDN Times, Jumat (30/10/2026).
1. Tekanan belanja negara berpotensi lebarkan defisit anggaran

Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat) Menurut dia, tekanan terhadap belanja negara tersebut berisiko memperlebar defisit APBN apabila pemerintah tidak melakukan penyesuaian anggaran. Terlebih, proyeksi defisit APBN 2026 saat ini sudah mencapai 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan dalam APBN 2026," ujar Nailul.
2. Perlu kurangi belanja karena tekanan ke APBN semakin berat

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp) Dia menjelaskan, asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 dipatok sebesar Rp16.800 per dolar AS. Sementara itu, jika rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp18.200 per dolar AS, tekanan terhadap APBN berpotensi semakin besar hingga akhir tahun.
Di sisi lain, pemerintah juga masih harus mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar untuk membiayai berbagai program prioritas Presiden. Nailul menilai, pemerintah belum menunjukkan keinginan untuk mengurangi alokasi anggaran program-program tersebut.
"Ini yang saya khawatirkan bisa membuat daya tahan APBN kita semakin lemah. Pemerintah bisa kesulitan membiayai operasional hingga akhir tahun," kata Nailul.
Karena itu, pelemahan rupiah perlu diwaspadai lantaran dampaknya tidak hanya dirasakan melalui kenaikan harga barang impor, tetapi juga berpotensi menambah beban fiskal pemerintah.
3. Jalur moneter, BI komitmen jaga stabilitas rupiah

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt) Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan pihaknya akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi domestik relatif baik dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi pembanding.
"Kami di Bank Indonesia kan tugasnya menjaga stabilitas rupiah. Jadi, kalau kita lihat pergerakan rupiah, kan memang sangat banyak faktor yang memengaruhi. Tapi, kalau kita lihat dari fundamental ekonomi, sebenarnya dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group," kata Destry dalam Rapimnas Kadin 2026, Kamis (29/10).



















