Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jepang: Kekhawatiran Energi Meningkat, Imbas Ketegangan di Timur Tengah

Jepang: Kekhawatiran Energi Meningkat, Imbas Ketegangan di Timur Tengah
Ilustrasi industri gas alam cair (LNG). (pexels.com/Diego F. Parra)
Intinya Sih
  • Pasokan LNG Jepang tetap stabil berkat diversifikasi sumber, meski konflik Timur Tengah menekan harga minyak dan memicu kekhawatiran terhadap keseimbangan energi nasional.
  • Kenaikan harga minyak akibat konflik membuat inflasi meningkat, yen melemah, dan Bank of Japan menahan suku bunga sambil memantau risiko ekonomi lebih lanjut.
  • Harga bensin dan solar di Jepang tembus rekor tertinggi, mendorong pemerintah mengaktifkan subsidi baru sementara sektor manufaktur mulai terdampak oleh lonjakan biaya energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Federasi Perusahaan Listrik (FEPC) Jepang, menyatakan bahwa pasokan gas alam cair (LNG) negara tersebut tetap stabil di tengah konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung. Meski demikian, lonjakan harga minyak mentah mulai menekan ekonomi domestik dan memaksa pemerintah untuk mengintervensi pasar.

"LNG merupakan bahan bakar utama pembangit listrik termal di Jepang. Namun, pasokan tetap aman karena Jepang telah berhasil melakukan diversifikasi pemasok LNG. Saat ini, impor dari negara-negara Teluk Persia hanya menyumbang 6 persen dari total kebutuhan nasional," kata ketua FEPC, Nozomu Muri, saat menjelaskan dalam konferensi pers pada Kamis (19/3/2026).

"Kami tidak melihat dampak langsung terhadap stabilitas pasokan LNG saat ini," sambungnya, dilansir NHK News.

Namun, ia menyebut dampak terhadap tarif listrik masih belum dapat diprediksi. Mori juga memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, keseimbangan pasokan dan permintaan LNG global dapat semakin ketat.

Sejak serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Jepang yang miskin sumber daya alam terus memantau ketat stabilitas energi di tengah risiko geopolitik yang tidak menentu.

1. Kenaikan harga energi global dapat menekan perekonomian Jepang

Ilustrasi uang kertas pecahan sepuluh ribu yen Jepang. (unsplash.com/ jun rong loo)
Ilustrasi uang kertas pecahan sepuluh ribu yen Jepang. (unsplash.com/ jun rong loo)

Sementara itu, Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memberikan nadyang lebih waspada. Ueda menyoroti bahwa kenaikan harga minyak yang dipicu konflik dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi melalui biaya impor.

Ueda menekankan perkembangan di Timur Tengah akan menjadi faktor penting dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga ke depan. Bank sentral pada 19 Maret 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga sekitar 0,75 persen, Kyodo News melaporkan.

"Fluktuasi mata uang saat ini memiliki dampak yang lebih kuat terhadap inflasi dibandingkan sebelumnya," ungkapnya, merujuk pada pelemahan yen yang memperburuk biaya energi.

2. Harga bensin di Jepang tembus rekor, pemerintah siapkan subsidi baru

Ilustrasi pengisian bensin. (unsplash.com/Dawn McDonald)
Ilustrasi pengisian bensin. (unsplash.com/Dawn McDonald)

Kementerian Perindustrian Jepang melaporkan pada Rabu (18/3/2026) bahwa harga rata-rata bensin eceran di Jepang melonjak ke rekor tertinggi sebesar 190,80 yen (Rp20.365) per liter. Kenaikan tajam ini dipicu oleh melambungnya harga minyak mentah akibat eskalasi konflik AS-Israel dan Iran.

Dilaporkan, harga melonjak 29 yen (Rp3 ribu) dari minggu sebelumnya, menyamai rekor kenaikan mingguan terbesar sejak 1990. Angka ini juga melampaui rekor sebelumnya (186,50 yen atau Rp19.889) pada April 2025 yang disebabkan oleh lemahnya yen.

Merespons kenaikan ini, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengaktifkan kembali subsidi negara, guna menekan harga kembali ke kisaran 170 yen (Rp18.127) per liter.

Per Senin, harga bensin naik di seluruh 47 prefektur Jepang. Harga solar meningkat menjadi 178,40 yen per liter (Rp19.018), dan minyak tanah naik menjadi 2.774 yen (Rp295.725) per 18 liter.

3. Imbas konflik di Timur Tengah meluas ke sektor manufaktur Jepang

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)

Dampak gangguan pasokan minyak mentah semakin meluas karena konflik di Timur Tengah. Akibatnya, perusahaan petrokimia di Jepang menaikkan harga beberapa produk, dan produsen baja besar menghentikan sementara salah satu pembangkit listrik tenaga termalnya.

Baru-baru ini, Mitsubishi Chemical mengumumkan keputusannya untuk menaikkan harga produk petrokimia yang digunakan untuk membuat plastik pada mobil dan peralatan rumah tangga.

Pada Kamis, JFE Steel menghentikan sementara salah satu dari lima generator tenaga termal di pabrik besinya di Prefektur Hiroshima, di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan kekurangan bahan bakar minyak. Namun, produsen baja tersebut menyatakan operasional pabrik tetap berjalan normal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More