Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Di pihak seberang, Presiden Donald Trump mengancam akan menyetop seluruh penjualan pesawat buatan produsen asal Kanada, Bombardier Aviation, di pasar AS. Trump menuntut pabrikan yang bermarkas di Quebec itu memindahkan kegiatan manufakturnya secara langsung ke wilayah Amerika Serikat.
"Tidak boleh lagi ada penjualan Bombardier di Amerika Serikat!" tulis Trump lewat platform Truth Social miliknya tanpa menguraikan mekanisme pelarangan tersebut.
Menanggapi ancaman Trump, pihak Bombardier menyatakan, perusahaan mereka telah membuka puluhan ribu lapangan kerja di lebih dari 20 negara bagian AS. Pabrikan kedirgantaraan tersebut juga membelanjakan lebih dari 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp44,02 triliun per tahun kepada jaringan pemasok yang melibatkan sekitar 2.800 perusahaan lokal AS.
Menurut data pemerintah AS, total transaksi arus perdagangan lintas batas antara kedua negara bertetangga ini bernilai lebih dari 700 miliar dolar AS atau setara Rp12.324,2 triliun pada tahun lalu.
Para pakar ekonomi memproyeksikan tarif balasan Kanada berisiko memukul sektor manufaktur di negara bagian wilayah barat tengah AS, seperti Michigan dan Indiana, serta peternak susu di Wisconsin dan Vermont. Di sisi lain, jajak pendapat Reuters/Ipsos mencatat hanya 20 persen warga AS yang menyetujui langkah Trump mengenakan tarif terhadap produk Kanada. Hingga saat ini, belum ada perundingan dagang lanjutan yang digelar untuk menuntaskan perselisihan antara kedua negara sekutu tersebut.