Jakarta, IDN Times - Ancaman siber kian merajalela, termasuk di Web3 yang mencakup aktivitas perdagangan aset kripto.
Data dari Tiger Research menunjukkan social engineering menjadi penyebab 74,7 persen total kerugian akibat kejahatan siber. Khususnya di industri Web3, pada kuartal I-2026, meningkat tajam hingga 64,3 persen dibandingkan 2025.
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, meningkat 7 kali lipat dari rata-rata tahunan periode 2020-2024.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026.
Merespons kondisi tersebut, Indodax mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mengakses layanan digital atau menghubungi layanan pelanggan.
Berikut adalah tiga hal penting yang harus diketahui untuk mengenali modus ancaman siber, tips mencegah, serta langkah yang harus dilakukan saat menghadapi indikasi ancaman siber.
