Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Anak Muda RI Makin Banyak Gunakan Kripto?
Ilustrasi aplikasi kripto (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Laporan IMGR 2027 mencatat lonjakan penggunaan kripto di kalangan usia 18–35 tahun, menandakan aset digital ini telah menjadi bagian dari perilaku keuangan generasi muda Indonesia.
  • Risiko tinggi seperti fluktuasi harga, perubahan regulasi, dan kasus penipuan investasi menunjukkan ekosistem kripto masih menghadapi tantangan besar dalam hal keamanan dan kredibilitas.
  • Bagi generasi muda, kripto bukan solusi utama tetapi bagian dari strategi finansial untuk memperoleh kendali lebih besar atas keuangan di tengah keterbatasan akses instrumen konvensional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laporan Indonesia Millennial and Gen-Z Report (IMGR) 2027 mencatat meningkatnya penggunaan aset kripto dan instrumen alternatif di kalangan anak muda Indonesia.

Fenomena ini disebut sebagai bentuk adaptasi terhadap berbagai keterbatasan dan peluang yang mereka temui dalam sistem keuangan saat ini, bukan sebagai perubahan pandangan ideologis menuju sistem yang lebih terdesentralisasi.

Laporan tersebut menyoroti keputusan generasi muda untuk memanfaatkan instrumen alternatif lahir dari cara mereka menilai efektivitas instrumen keuangan yang tersedia, sekaligus mencari ruang kendali yang lebih besar dalam mengelola keuangan pribadi.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

1. Kripto menjadi bagian dari perilaku keuangan generasi muda

Ilustrasi aset kripto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Berdasarkan data regulasi yang dikutip dalam laporan, jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia mencapai sekitar 21,63 juta orang per Oktober 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen berasal dari kelompok usia 18 hingga 35 tahun.

Besarnya porsi pengguna dari kelompok usia muda menunjukkan kripto tidak lagi berada di luar arus utama sistem keuangan. Instrumen ini telah menjadi bagian dari pola pengelolaan keuangan generasi muda dan berkembang menjadi fenomena yang bersifat struktural.

Laporan tersebut menjelaskan, kemudahan akses, kebutuhan modal awal yang relatif rendah, serta kemampuan bertransaksi secara cepat menjadi sejumlah faktor yang mendorong anak muda memilih kripto. Karakteristik itu dinilai lebih mudah dijangkau dibandingkan sebagian instrumen keuangan konvensional yang masih dianggap rumit dan kurang transparan oleh sebagian masyarakat.

Meski demikian, tingginya tingkat adopsi tidak serta-merta menunjukkan rendahnya kesadaran terhadap risiko. Pasar kripto disebut tetap rentan terhadap berbagai dinamika eksternal dan gejolak global.

Sebagai gambaran, laporan CoinShares yang dikutip Fortune Indonesia menunjukkan produk investasi kripto masih mencatat arus masuk bersih sebesar 619 juta dolar Amerika Serikat dalam satu pekan di tengah ketegangan geopolitik yang berkaitan dengan Iran.

2. Risiko tetap menjadi tantangan dalam ekosistem kripto

ilustrasi kripto (IDN Times/Aditya Pratama)

Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah risiko yang menyertai penggunaan aset kripto. Fluktuasi harga yang tinggi, perubahan regulasi yang terus berlangsung, serta persoalan keamanan dan platform menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh para pengguna.

Dengan demikian, meningkatnya kendali atas pengelolaan aset juga diikuti oleh tanggung jawab yang lebih besar dan paparan risiko yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, pada awal 2026, figur publik di bidang edukasi kripto, Timothy Ronald, dilaporkan kepada aparat penegak hukum terkait dugaan penipuan investasi kripto. Hingga Mei 2026, proses penyelidikan terhadap kasus tersebut masih berlangsung.

Laporan itu menilai risiko dalam ekosistem kripto tidak hanya berasal dari pergerakan harga, tetapi juga berkaitan dengan kredibilitas pihak ketiga, ketimpangan informasi, dan potensi penyalahgunaan kepercayaan.

Kasus tersebut disebut bukan satu-satunya. Sebelumnya, aparat penegak hukum juga mengungkap jaringan penipuan kripto yang menyebabkan kerugian hingga Rp105 miliar dan melibatkan puluhan korban. Temuan itu menunjukkan risiko dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah partisipan di pasar.

3. Kripto dipandang sebagai bagian dari strategi keuangan

ilustrasi kripto (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam perspektif yang lebih luas, laporan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027 menyebut generasi muda berada dalam kondisi yang menuntut kemampuan beradaptasi. Di tengah akses terhadap instrumen keuangan konvensional yang dirasakan semakin terbatas, kebutuhan untuk membangun stabilitas keuangan tetap menjadi prioritas.

Situasi tersebut membuat pengambilan risiko menjadi salah satu bagian dari strategi finansial. Selain menghadapi risiko pasar, generasi muda juga dinilai berhadapan dengan berbagai risiko yang muncul dari sistem yang masih berkembang.

Karena itu, kripto tidak diposisikan sebagai solusi utama, melainkan sebagai salah satu instrumen yang digunakan bersama berbagai pilihan investasi lainnya. Instrumen ini dimanfaatkan untuk melengkapi strategi keuangan yang lebih luas dalam mengelola peluang dan keterbatasan yang ada.

Laporan tersebut menyimpulkan meningkatnya penggunaan kripto dan berkurangnya ketertarikan terhadap sebagian instrumen formal berangkat dari dasar yang sama, yakni upaya untuk memperoleh kendali yang lebih besar di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.

Editorial Team

Related Article