Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Minyak Jatuh usai AS Sebut Selat Hormuz Berpeluang Dibuka

Harga Minyak Jatuh usai AS Sebut Selat Hormuz Berpeluang Dibuka
ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
Intinya Sih
  • Harga minyak dunia turun ke level terendah tiga pekan setelah pejabat AS melihat peluang kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.
  • Harapan pembukaan jalur yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global mendorong bursa global menguat, dengan sejumlah indeks Wall Street dan Eropa mencetak rekor.
  • Negosiasi melalui Oman belum final, sementara serangan terhadap kapal dan ancaman keamanan di kawasan membuat investor waspada serta menekan harga bahan bakar di Inggris dan AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN TimesHarga minyak dunia merosot ke titik terendah dalam tiga pekan pada Selasa (4/8/2026) setelah pejabat senior Amerika Serikat (AS) memunculkan harapan tercapainya kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran. Perkembangan itu turut mengangkat pasar saham global ke level yang lebih tinggi.

Selat Hormuz sempat menghentikan sebagian besar lalu lintas kapal tanker selama lima bulan, padahal jalur tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair harian dunia. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan ada peluang kesepakatan untuk membuka kembali jalur itu hari ini atau besok sekaligus mengarah pada kondisi yang lebih normal.

1. Rekor bursa menguatkan kepercayaan investor

ilustrasi bursa efek (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi bursa efek (pexels.com/Pixabay)

Dua dari tiga indeks utama Wall Street mencetak rekor penutupan baru pada Selasa (4/8/2026), sedangkan indeks acuan di Paris dan Milan juga berakhir di level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Frankfurt dan Madrid memperpanjang rekor yang telah dicapai pada hari sebelumnya.

Pergerakan pasar saham terjadi setelah fase volatilitas yang dipicu kekhawatiran terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) dan kepastian dampaknya bagi perekonomian. Di sisi lain, kepercayaan investor kembali menguat berkat laporan keuangan perusahaan data AI Palantir serta perusahaan konstruksi Caterpillar yang melampaui perkiraan di tengah ketidakpastian serangan AS dan Israel ke Iran.

Gambaran pergerakan pasar tersebut juga disampaikan oleh Art Hogan dari B. Riley Wealth Management.

“Sesi hari ini merupakan contoh bagus bagaimana pasar bergerak ketika seseorang di pemerintahan ini mengatakan sesuatu tentang Selat Hormuz,” kata Hogan, yang juga menilai musim laporan keuangan saat ini berjalan spektakuler, dikutip CNA.

2. Pembicaraan membuka jalur pelayaran terus berlangsung

ilustrasi kapal pengangkut minyak
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pembicaraan yang melibatkan Iran dan Oman menunjukkan perkembangan untuk mengizinkan kapal kembali melintas.

“Sudah ada kemajuan dalam pembicaraan itu, tetapi belum ada finalitas. Kami berharap itu terjadi dalam waktu dekat,” ujar Rubio kepada wartawan di Departemen Luar Negeri AS, dikutip BBC.

Pernyataan tersebut diikuti penurunan harga minyak mentah Brent hampir 5 persen hingga berada di bawah 80 dolar AS (setara sekitar Rp1,4 juta) per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun lebih dari 5 persen menjadi 76 dolar AS (setara sekitar Rp1,36 juta) per barel. Keduanya menyentuh level terendah sejak 13 Juli 2026, sementara Bessent menyebut peluang kesepakatan terbuka lebar meski rincian teknisnya belum dipublikasikan.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan negosiasi dengan AS tak dilakukan secara langsung, melainkan melalui Oman untuk membahas mekanisme baru bagi kapal yang diklaim berjalan positif. Qatar sebagai mediator utama juga menyebut upaya penyelesaian diplomatik terus didorong meski belum ada agenda pembicaraan langsung dalam waktu dekat.

3. Kekhawatiran keamanan membayangi pasar

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Investor masih bersikap hati-hati karena sejumlah pengumuman kesepakatan sebelumnya tak bertahan lama. Sikap itu muncul setelah seorang awak kapal dilaporkan hilang akibat serangan proyektil terhadap kapal niaga di Selat Hormuz, bersamaan dengan tenggelamnya kapal berbendera India di dekat perairan Yaman yang melibatkan keselamatan 14 awak.

Pandangan tersebut juga disampaikan Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell.

“Investor sangat menyadari berapa kali kita sudah berada di titik ini dalam perang dan betapa rapuhnya proses mengamankan kesepakatan yang bertahan lama,” kata Hewson.

Analis menilai ancaman terhadap kapal tanker di kawasan itu berada pada level tertinggi sejak konflik dimulai. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga bahan bakar, dengan kelompok otomotif RAC mencatat harga bensin di Inggris mencapai 1,60 pound sterling (setara sekitar Rp31,4 ribu) per liter, sedangkan data AAA menunjukkan harga bensin di AS melampaui 4 dolar AS (setara sekitar Rp71,9 ribu) per galon dan solar hampir 5,40 dolar AS (setara sekitar Rp97 ribu) per galon.

Di tengah tingginya laba perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, Chevron, dan Exxon Mobil, Hewson menyebut operasi mereka masih dipengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Trump juga memperingatkan Iran bahwa kesempatan mencapai perjanjian pelayaran komersial tinggal sekali lagi, sembari mengonfirmasi telah membatalkan serangan besar-besaran untuk memberi ruang bagi jalur diplomasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More