Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Ubah Pendekatan Hadapi Perubahan Lanskap Ekonomi-Keuangan Global

BI Ubah Pendekatan Hadapi Perubahan Lanskap Ekonomi-Keuangan Global
Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. (IDN Times/Hana Adi Perdana)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Bank Indonesia menilai pendekatan kebijakan sektoral tidak lagi memadai di tengah fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan risiko sistemik.
  • Bank sentral didorong mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, serta koordinasi fiskal.
  • Konferensi BMEB membahas AI, inovasi keuangan, uang digital, dan kebutuhan koordinasi kebijakan yang lebih erat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pendekatan kebijakan yang berjalan secara sektoral tidak lagi memadai di tengah fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan meningkatnya risiko sistemik.

Menurutnya, bank sentral kini dituntut mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan kebijakan fiskal. Hal ini disampaikan Destry saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali, 31 Juli 2026.

"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," katanya, dikutip dari keterangan resmi BI, Rabu (5/8/2026).

1. BI tetapkan empat prioritas riset

ilustrasi dokumen analisis data riset pasar dengan batang grafik merah dan pensil
ilustrasi dokumen analisis data riset pasar dengan batang grafik (pexels.com/Proyek Saham RDNE) merah dan pensil

Destry mengatakan, riset bank sentral perlu diarahkan pada empat agenda utama agar mampu menjawab tantangan yang terus berkembang. Prioritas pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi.

Kedua, memperdalam analisis mengenai perkembangan keuangan digital, termasuk sistem pembayaran digital, akal imitasi (AI), fintech, aset kripto, dan mata uang digital beserta dampaknya terhadap kebijakan bank sentral.

Prioritas ketiga ialah mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi risiko siber, perubahan iklim, likuiditas, hingga risiko lintas negara. Sementara prioritas keempat berfokus pada penguatan kredibilitas kelembagaan serta komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan publik.

2. Kebijakan moneter tidak bisa berjalan sendiri

ilustrasi kebijakan moneter (Freepik.com/nafan1980)
ilustrasi kebijakan moneter (Freepik.com/nafan1980)

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, ketidakpastian global yang semakin kompleks menuntut koordinasi kebijakan yang lebih kuat.

Menurutnya, kebijakan moneter tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi trilema antara stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter. Kebijakan tersebut perlu didukung kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi.

Dia menilai, koordinasi antarlembaga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

3. AI, kripto dan uang digital ikut jadi sorotan

ilustrasi AI
ilustrasi AI (vecteezy.com/Muchlis Nugroho)

Konferensi BMEB juga membahas berbagai isu yang dinilai semakin mempengaruhi kebijakan bank sentral. Pada aspek fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti besarnya pengaruh guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan koordinasi kebijakan yang lebih erat, pemanfaatan analisis berbasis skenario, serta kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan investasi. Sementara pada transformasi digital, pembahasan berfokus pada perkembangan AI dan inovasi keuangan yang mengubah sistem pembayaran, uang, dan pasar keuangan.

Forum itu juga mengulas berbagai bentuk uang digital, seperti stablecoins, tokenized deposits, dan wholesale central bank digital currencies (CBDC), serta pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang efisien, saling terhubung, dan tangguh. Konferensi BMEB diikuti peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional. Tahun ini, Call for Papers BMEB menerima 354 naskah dari 34 negara.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More