Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Investasi Properti Tidak Selalu Memberi Keuntungan Cepat

Kenapa Investasi Properti Tidak Selalu Memberi Keuntungan Cepat
ilustrasi investasi properti (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Properti berlikuiditas rendah; capital gain baru terealisasi setelah penjualan yang dapat memakan berbulan-bulan hingga lebih setahun. Investor umumnya menyiapkan horizon lima hingga sepuluh tahun.
  • Kenaikan harga jual bukan keuntungan bersih karena harus dipotong PBB, perawatan, renovasi, asuransi, pemasaran, dan komisi agen. ROI menghitung seluruh biaya kepemilikan.
  • Nilai properti dipengaruhi perkembangan kawasan, infrastruktur, dan kondisi ekonomi seperti suku bunga KPR. Banyak investor mengandalkan pendapatan sewa sambil menunggu capital gain jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Investasi properti sering dianggap sebagai salah satu cara paling aman untuk menumbuhkan aset dalam jangka panjang. Kenaikan harga tanah dan bangunan dari tahun ke tahun membuat banyak orang percaya bahwa membeli properti pasti menghasilkan keuntungan besar.

Padahal, keuntungan dari aset ini tidak selalu datang dalam waktu singkat karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi pasar hingga biaya kepemilikan. Sebelum memutuskan membeli rumah, apartemen, atau ruko sebagai instrumen investasi, yuk pahami dulu alasan mengapa keuntungan properti membutuhkan waktu untuk berkembang.

1. Properti termasuk aset tidak likuid sehingga keuntungan baru terealisasi setelah berhasil dijual

ilustrasi investasi properti
ilustrasi investasi properti (pexels.com/Kindel Media)

Dalam dunia investasi, properti dikategorikan sebagai aset dengan likuiditas rendah (low liquidity asset). Artinya, aset ini tidak bisa langsung diubah menjadi uang tunai ketika pemilik membutuhkan dana. Aset properti berbeda dengan saham yang dapat dijual dalam hitungan detik saat bursa buka atau reksa dana yang pencairannya rata-rata hanya memerlukan dua hingga tujuh hari kerja.

Penjualan rumah, apartemen, maupun ruko harus melalui proses pemasaran, negosiasi harga, pemeriksaan legalitas, pengajuan kredit oleh calon pembeli, hingga balik nama sertifikat. Seluruh tahapan tersebut membuat transaksi properti sering kali memakan waktu beberapa bulan, bahkan lebih dari satu tahun apabila permintaan pasar sedang melemah.

Dari sudut pandang bisnis, kenaikan nilai properti (capital gain) sebenarnya belum bisa disebut keuntungan selama aset belum berhasil dijual. Misalnya, rumah yang dibeli seharga Rp800 juta lima tahun lalu kini diperkirakan bernilai Rp1 miliar memang terlihat mengalami kenaikan sekitar 25 persen. Namun, keuntungan itu masih bersifat di atas kertas karena pemilik belum menerima uang tunai.

Apabila rumah baru laku delapan bulan kemudian atau harus dijual dengan harga Rp930 juta agar cepat mendapat pembeli, keuntungan riil otomatis lebih kecil daripada estimasi awal. Karena alasan inilah investor properti umumnya menyiapkan horizon investasi minimal lima hingga sepuluh tahun agar peluang memperoleh capital gain lebih besar.

2. Keuntungan harus dipotong berbagai biaya sehingga hasil bersih tidak langsung besar

ilustrasi renovasi
ilustrasi renovasi (pexels.com/Robert So)

Kesalahan yang sering dilakukan investor pemula adalah hanya membandingkan harga beli dan harga jual tanpa menghitung seluruh biaya kepemilikan. Padahal, selama properti dimiliki, ada banyak pengeluaran yang terus berjalan, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), biaya perawatan bangunan, renovasi, iuran lingkungan, asuransi, hingga biaya pemasaran ketika properti akan dijual.

Jika menggunakan jasa agen properti, pemilik juga perlu menyiapkan komisi yang umumnya berkisar 2–5 persen dari nilai transaksi, sehingga keuntungan bersih kembali berkurang. Seluruh biaya tersebut akan dimasukkan ke dalam perhitungan return on investment (ROI), bukan hanya melihat selisih harga jual dan harga beli.

Sebagai contoh, rumah seharga Rp1 miliar yang naik menjadi Rp1,15 miliar memang terlihat memberikan keuntungan Rp150 juta. Namun, jika selama lima tahun pemilik menghabiskan sekitar Rp60 juta untuk renovasi, pajak, dan perawatan serta membayar komisi agen sebesar Rp34,5 juta ketika menjualnya, keuntungan bersih tinggal sekitar Rp55,5 juta sebelum memperhitungkan inflasi maupun pajak transaksi lainnya. Karena itu, kenaikan harga properti tidak selalu mencerminkan keuntungan yang benar-benar masuk ke kantong investor.

3. Pertumbuhan harga properti sangat dipengaruhi perkembangan kawasan dan siklus ekonomi

ilustrasi bisnis properti
ilustrasi bisnis properti (pexels.com/RDNE Stock project)

Harga properti tidak naik secara otomatis setiap tahun karena sangat bergantung pada perkembangan kawasan di sekitarnya. Kehadiran jalan tol, stasiun kereta, bandara, kawasan industri, kampus, hingga pusat perbelanjaan baru biasanya menjadi faktor yang mendorong kenaikan permintaan.

Sebaliknya, properti yang berada di wilayah dengan pembangunan infrastruktur yang lambat cenderung mengalami apresiasi lebih kecil sehingga pemilik harus menunggu lebih lama untuk memperoleh keuntungan yang signifikan. Inilah alasan mengapa dua rumah dengan harga awal yang sama dapat memiliki pertumbuhan nilai yang sangat berbeda hanya karena lokasinya.

Selain faktor lokasi, kondisi ekonomi makro juga menentukan cepat atau lambatnya perputaran bisnis properti. Ketika suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) meningkat, cicilan bulanan menjadi lebih mahal sehingga jumlah calon pembeli biasanya ikut menurun.

Akibatnya, penjual sering harus menurunkan harga agar transaksi terjadi lebih cepat atau menunggu hingga kondisi pasar membaik. Trivia menariknya, banyak perusahaan investasi properti justru lebih fokus mencari pendapatan sewa (rental yield) sekitar 3–8 persen per tahun sambil menunggu capital gain, karena mereka memahami bahwa keuntungan terbesar dari properti umumnya baru terasa setelah dimiliki dalam jangka panjang, bukan dalam hitungan bulan.

Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dalam hal kecepatan menghasilkan keuntungan. Memahami cara kerja suatu aset sebelum mengalokasikan dana dapat membantu mengurangi risiko ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi, apakah investasi properti sudah sesuai dengan tujuan keuangan dan jangka waktu investasi yang ingin kamu capai?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More