Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonomi RI Q2 Tumbuh 5,29 Persen, Ini Sektor Penopangnya

Ekonomi RI Q2 Tumbuh 5,29 Persen, Ini Sektor Penopangnya
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud (IDN Times/Triyan Pangastuti)
Intinya Sih
  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, dengan seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif kecuali pertambangan.
  • Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDB sebesar 18,5 persen, diikuti pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan yang justru terkontraksi 1,64 persen.
  • Pengadaan listrik dan gas tumbuh tertinggi 10,91 persen, sementara akomodasi-makan minum naik 10,40 persen didorong peningkatan okupansi hotel dan jasa boga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh hampir seluruh lapangan usaha yang mencatatkan kinerja positif.

"Dari sisi lapangan usaha, pada kuartal II-2026 secara tahunan seluruh lapangan usaha tumbuh positif, kecuali pertambangan," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud, dalam konferensi pers BPS, Rabu (5/8/2026).

Edy menjelaskan, lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) masih didominasi oleh industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

Berdasarkan data BPS, industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi 18,5 persen terhadap PDB, dan tumbuh 4,52 persen secara tahunan. Sektor pertanian menyumbang 13,97 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 3,80 persen, sedangkan sektor perdagangan berkontribusi 13,82 persen tumbuh 6,39 persen.

Sementara itu, sektor konstruksi yang memiliki kontribusi 9,75 persen tumbuh 6,68 persen. Berbeda dengan sektor lainnya, lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang menyumbang 8,87 persen terhadap PDB justru mengalami kontraksi 1,64 persen secara tahunan.

Di luar lima sektor utama tersebut, pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 10,91 persen.

Menurut BPS, pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya penjualan listrik di hampir seluruh segmen pelanggan, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menunjukkan kinerja kuat dengan pertumbuhan 10,40 persen.

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya tingkat okupansi hotel dan kinerja jasa boga seiring meluasnya jangkauan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujarnya.

Selain itu, lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh 6,87 persen, didorong semakin luasnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan sektor lainnya.

Adapun sektor jasa pendidikan tumbuh 5,92 persen, transportasi dan pergudangan 5,65 persen, jasa perusahaan 5,06 persen, jasa lainnya 4,36 persen, real estat 3,64 persen, jasa keuangan 3,11 persen, administrasi pemerintahan 0,89 persen, jasa kesehatan 0,36 persen, dan pengadaan air 0,83 persen.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More