Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Ekonomi Kuartal II-2026

- Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama ekonomi kuartal II-2026, menyumbang 53,32 persen PDB dan tumbuh 5,06 persen secara tahunan.
- Investasi atau PMTB berkontribusi 29,36 persen terhadap PDB dan tumbuh 6,87 persen, didorong lonjakan investasi kendaraan, peralatan, serta realisasi BKPM.
- Konsumsi pemerintah tumbuh tertinggi 15,97 persen karena belanja pegawai dan barang, sementara ekspor tumbuh 4,13 persen serta impor meningkat 8,82 persen.
Jakarta, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif pada kuartal II-2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, disusul investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud, mengatakan konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026 dan tumbuh 5,06 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, PMTB atau investasi menyumbang 29,36 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 6,87 persen.
"Secara total, kedua komponen tersebut memberikan kontribusi sebesar 82,68 persen terhadap struktur PDB Indonesia," ujar Edy dalam konferensi pers BPS, Rabu (5/8/2026).
Edy menjelaskan, menguatnya konsumsi rumah tangga tidak terlepas dari momentum hari libur dan hari besar keagamaan yang berlangsung pada kuartal II-2026. Di dalam komponen konsumsi rumah tangga, kelompok restoran dan hotel mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,47 persen, disusul transportasi dan komunikasi yang tumbuh 5,71 persen.
Sementara itu, pertumbuhan PMTB didukung oleh meningkatnya aktivitas investasi. Hal itu tercermin dari pertumbuhan investasi pada subkomponen kendaraan sebesar 26,03 persen dan peralatan lainnya yang tumbuh 16,18 persen. Selain itu, realisasi investasi berdasarkan data BKPM juga meningkat 7,14 persen.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi di antara seluruh komponen pengeluaran, yakni 15,97 persen, meski kontribusinya terhadap PDB hanya 7,57 persen.
"Pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai. Belanja tersebut meningkat seiring pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), prajurit TNI, anggota Polri, serta percepatan pembayaran tunjangan bagi tenaga pendidik non-PNS," ujar Edy.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah juga ditopang oleh meningkatnya belanja barang dan jasa, terutama belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat, termasuk untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, komponen ekspor memberikan kontribusi 23,13 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 4,13 persen. Adapun konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) berkontribusi 1,35 persen dan tumbuh 6,93 persen.
Di sisi lain, impor tercatat sebagai komponen pengurang dalam penghitungan PDB dengan kontribusi negatif sebesar 24,06 persen. Meski demikian, secara tahunan impor masih tumbuh 8,82 persen.


















![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)