Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonom Kompak Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Q2 Lebih Rendah dari Q1

Ekonom Kompak Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Q2 Lebih Rendah dari Q1
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Lukas)
Intinya Sih
  • Bank Danamon memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,18 persen yoy pada kuartal II-2026, melambat dari 5,61 persen pada kuartal I akibat belanja pemerintah, aktivitas pascahari besar, dan sektor eksternal.
  • Investasi diperkirakan tetap menopang pertumbuhan lewat investasi asing dan impor barang modal, sementara konsumsi rumah tangga pulih bertahap karena masyarakat masih berhati-hati berbelanja.
  • LPEM FEB UI memperkirakan pertumbuhan kuartal II-2026 sebesar 4,80 persen yoy, dipengaruhi basis tinggi, inflasi impor, kenaikan harga Pertamax, serta turunnya keyakinan konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Bank Danamon Indonesia Tbk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,18 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.

Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz mengatakan, perlambatan tersebut lebih mencerminkan normalisasi pola belanja pemerintah yang melambat serta meredanya aktivitas ekonomi setelah periode hari besar keagamaan. Selain itu, sektor eksternal juga diperkirakan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan.

"Perlambatan ini lebih mencerminkan normalisasi pola belanja pemerintah yang lebih lambat dan meredanya aktivitas pasca hari besar keagamaan. Di sisi lain, sektor eksternal juga kurang mendukung," ujar Irman, Rabu (5/8/2026).

1. Investasi masih jadi penopang pertumbuhan ekonomi

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Meski demikian, Danamon menilai investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026. Hal itu tercermin dari realisasi investasi yang tetap tumbuh positif, didukung oleh masuknya investasi asing di sektor hilirisasi, manufaktur, pusat data (data center), dan infrastruktur.

Permintaan terhadap barang modal juga masih tinggi, yang terlihat dari pertumbuhan impor barang modal yang tetap kuat. Menurut Irman, kondisi tersebut memang berpotensi memperlebar impor dan menekan neraca perdagangan dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain mencerminkan ekspansi kapasitas produksi yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada periode mendatang.

2. Masyarakat masih hati-hati dalam mengeluarkan uangnya untuk berbelanja

ilustrasi perempuan belanja bahan makanan (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi perempuan belanja bahan makanan (pexels.com/Gustavo Fring)

Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tumbuh cukup baik, tetapi belum menjadi sumber utama akselerasi ekonomi. Berbagai stimulus pemerintah dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat, meski belanja rumah tangga masih cenderung tertahan.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih jauh lebih rendah dibandingkan kredit investasi. Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan permintaan domestik masih berlangsung secara bertahap dan belum merata.

"Masyarakat masih cenderung berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya, tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih jauh lebih rendah dibanding kredit investasi. Artinya, pemulihan permintaan domestik masih berlangsung secara bertahap dan belum sepenuhnya merata," ujarnya.

Dari sisi eksternal, Danamon memperkirakan ekspor neto akan menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026. Meskipun kinerja ekspor Indonesia masih relatif tangguh, impor diperkirakan tumbuh lebih cepat seiring tingginya kebutuhan barang modal, bahan baku, dan energi.

"Kondisi tersebut tercermin dari defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni, yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor eksternal terhadap PDB kemungkinan menjadi negatif pada kuartal II," kata Irman.

3. LPEM UI prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal II hanya 4,8 persen

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)

Sementara itu, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 4,80 persen secara tahunan (yoy), dengan kisaran 4,78 persen hingga 4,82 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 5,00 persen (yoy), dengan rentang 4,95 persen hingga 5,05 persen.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 diperkirakan berada di bawah 5 persen atau lebih rendah dari kuartal I tahun ini.

"Meskipun angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 masih menimbulkan sejumlah pertanyaan, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akan berada di bawah 5 persen," ujarnnya.

Menurut Riefky, salah satu penyebab perlambatan tersebut adalah basis pembanding (high base effect) yang tinggi. Pada kuartal II-2025, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh 5,12 persen (yoy). Selain itu, tidak ada faktor musiman yang mampu mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal II-2026 karena periode Ramadan dan Idul Fitri telah berlangsung pada kuartal I-2026.

Di sisi eksternal, tingginya harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah memicu inflasi impor sehingga meningkatkan biaya produksi. Di dalam negeri, keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax juga dinilai mengurangi daya beli masyarakat karena mendorong kenaikan harga barang dan biaya transportasi.

LPEM FEB UI juga mencatat melemahnya optimisme konsumen sepanjang kuartal II-2026. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dari 123 pada April menjadi 120,9 pada Mei, dan kembali melemah ke 117,8 pada Juni 2026. Dengan demikian, rata-rata IKK pada kuartal II-2026 tercatat 120,6, turun 4,4 poin dibandingkan rata-rata 125 pada kuartal sebelumnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More