Jakarta, IDN Times - Sebuah negara bisa kehilangan orang-orang terbaiknya bukan karena kekurangan tenaga terdidik, melainkan karena mereka memilih membangun karier di tempat lain. Fenomena ini dikenal sebagai brain drain atau pengurasan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
Dilansir Investopedia, brain drain terjadi ketika para profesional terampil, seperti dokter, insinyur, ilmuwan, peneliti, hingga tenaga ahli di bidang keuangan, meninggalkan negara atau wilayah asal untuk mencari kehidupan dan kesempatan kerja yang lebih baik.
Perpindahan tersebut umumnya dipicu oleh kesenjangan ekonomi, ketidakstabilan politik, terbatasnya lapangan pekerjaan, hingga minimnya kesempatan mengembangkan karier. Ketika kondisi di tempat asal tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan maupun harapan mereka, bekerja di negara lain menjadi pilihan yang lebih menarik.
Masalahnya, kepergian para tenaga ahli tersebut tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan. Negara yang ditinggalkan juga berpotensi kehilangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kualitas layanan publik.
Lantas, mengapa brain drain bisa terjadi dan apa yang membuat fenomena ini sulit dihentikan?