Krakatau Osaka Steel Tutup Pabrik Imbas Kalah Saing dengan Baja China

- Kalah saing dengan produk impor China - Krakatau Osaka Steel dan Ispat Indo kalah bersaing dengan impor baja murah dari China. - Pasokan baja dalam negeri dibutuhkan untuk proyek strategis nasional.
- Osaka Steel setop operasi usai permintaan anjlok - Penurunan tajam permintaan baja akibat pemangkasan belanja infrastruktur oleh pemerintah Indonesia. - Upaya menciptakan keuntungan yang stabil tidak membuahkan hasil.
- Krakatau Osaka Steel rugi sejak 2022 - Produksi dihentikan pada April, pengiriman dan penjualan dihentikan pada Juni. - Kerugian bersih mencapai 1,3 miliar yen pada tahun buku Desember 2024.
Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT Krakatau Steel Akbar Djohan mengungkapkan Krakatau Osaka Steel akan menghentikan operasi pada April 2026, menyusul tekanan berat di industri baja nasional.
Akbar juga menyinggung penutupan pabrik baja long product di Surabaya, Jawa Timur, milik Ispat Indo, yang terjadi sekitar Oktober lalu. Perusahaan tersebut diketahui berada di bawah Mittal Steel Group, salah satu produsen baja terbesar di dunia.
"Satu joint venture daripada Krakatau Steel itu akan tutup operasi di bulan April. Namanya Krakatau Osaka Steel," kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
1. Kalah saing dengan produk impor China

Akbar menjelaskan, baik Krakatau Osaka Steel maupun Ispat Indo memiliki fokus produksi pada baja long product, seperti besi ulir, besi polos, siku, dan channel. Namun, produk-produk tersebut dinilai tidak lagi mampu bersaing di pasar domestik.
"Ini sudah tidak dapat bersaing dengan maraknya impor long product baja murah daripada China," ungkapnya.
Situasi tersebut terjadi di saat pemerintah akan menjalankan berbagai proyek strategis nasional, seperti program 3 juta rumah, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Merah Putih, yang seluruhnya membutuhkan pasokan baja yang bisa diproduksi di dalam negeri.
2. Osaka Steel setop operasi usai permintaan anjlok
Sementara itu, Nikkei Asia melaporkan Osaka Steel akan menghentikan operasional Krakatau Osaka Steel menyusul penurunan tajam permintaan baja akibat pemangkasan signifikan belanja infrastruktur oleh pemerintah Indonesia.
Perusahaan Jepang itu menyatakan keputusan penarikan diri diambil setelah berbagai upaya untuk menciptakan keuntungan yang stabil tidak membuahkan hasil. Osaka Steel juga disebut tidak berhasil menemukan pembeli untuk melepas bisnis tersebut.
Proses penarikan dan rincian teknis lainnya akan ditentukan melalui pembahasan dengan mitra usaha patungannya, Krakatau Steel, yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN).
3. Krakatau Osaka Steel rugi sejak 2022

Produksi Krakatau Osaka Steel dijadwalkan berakhir pada 30 April, sementara pengiriman dan penjualan akan dihentikan pada 30 Juni. Osaka Steel menyebut nilai kerugian yang akan dicatat akibat penarikan tersebut masih dalam perhitungan.
Pada tahun buku yang berakhir Desember 2024, Krakatau Osaka Steel mencatat penjualan sebesar 25,3 miliar yen atau sekitar 161 juta dolar AS, dengan kerugian bersih mencapai 1,3 miliar yen.
Krakatau Steel dan Osaka Steel mendirikan usaha patungan tersebut pada 2012. Meski sempat mencatat keuntungan pada 2021, perusahaan patungan itu kembali membukukan kerugian bersih sejak 2022.



















