Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kredit Belum Terserap Maksimal, BI Tagih Agresivitas Dunia Usaha
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
  • BI meminta dunia usaha lebih agresif memanfaatkan fasilitas pembiayaan bank untuk memperkuat intermediasi dan pertumbuhan ekonomi, karena kredit tersedia masih banyak belum digunakan.
  • Undisbursed loan mencapai Rp2.548 triliun pada Juli 2026, saat kredit perbankan tumbuh 13,58 persen secara tahunan; tantangan berasal dari penyaluran bank dan permintaan dunia usaha.
  • BI memperbarui skema KLM mulai 1 September 2026; insentif yang diserap bank mencapai Rp446,5 triliun hingga awal Agustus, sekaligus mendorong pembiayaan sektor pendukung prioritas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bank Indonesia bilang banyak uang pinjaman dari bank belum dipakai usaha-usaha. Nilainya Rp2.548 triliun pada Juli 2026. Pak Alexander dari BI ingin usaha lebih berani meminjam untuk membesarkan usaha. Bank juga diminta terus memberi pinjaman. BI juga membantu bank lewat aturan baru mulai 1 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mendorong dunia usaha lebih agresif memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang telah disediakan perbankan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, ruang pertumbuhan kredit perbankan masih terbuka lebar. Pasalnya, masih banyak fasilitas kredit yang tersedia di perbankan tetapi belum dimanfaatkan oleh dunia usaha.

"Kalau dari sisi korporasinya juga, fasilitas banyak yang belum dipakai. Kami belum pakai semua, karena kami masih melihat," ujar Alex dalam Taklimat Media BI di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

1. Tantangan tak hanya sisi penyaluran tapi permintaan

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Menurut Alex, tantangan penyaluran kredit saat ini tidak hanya berasal dari sisi perbankan, tetapi juga dari permintaan kredit. Dunia usaha dinilai masih menahan diri dalam memanfaatkan pembiayaan yang tersedia.

Berdasarkan data BI, nilai fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.548 triliun pada Juli 2026.

Pada Juli 2026, kredit perbankan tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Alex menilai, penguatan fungsi intermediasi perbankan membutuhkan peran dari kedua sisi. Perbankan perlu terus menyalurkan kredit, sementara dunia usaha harus lebih berani menggunakan fasilitas pembiayaan untuk mendukung ekspansi bisnis.

"Kalau bank-nya sudah, tapi belum sekencang yang kita harapkan. Sama juga di mana belum se-willing sektor swastanya yang kita harapkan," kata Alex.

2. Dorong sektor penopang

Ilustrasi Bank (pixabay.com/PabitraKaity)

Di sisi lain, BI terus mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah. Alex mengatakan, pertumbuhan kredit di sektor tersebut saat ini sudah cukup kuat.

Namun, menurut dia, pembiayaan perlu diperluas ke sektor-sektor lain yang dapat menopang dan terintegrasi dengan sektor prioritas pemerintah.

Beberapa di antaranya adalah sektor transportasi, distribusi, dan pertanian.

"Intensi kita tetap mempertahankan financing itu sebenarnya pengennya bahwa sektor-sektor lain juga menopang sektor-sektor pemerintah," jelas Alex.

3. Total insentif KLM yang telah diserap perbankan mencapai Rp446,5 triliun.

Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)

Untuk mendorong penyaluran kredit, BI juga memperbarui skema Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang mulai berlaku pada 1 September 2026.

Hingga pekan pertama Agustus 2026, total insentif KLM yang telah diserap perbankan mencapai Rp446,5 triliun.

Realisasi tersebut terdiri dari financing channel sebesar Rp368,4 triliun, interest rate channel Rp73,2 triliun, serta financing to funding channel Rp4,9 triliun.

Dalam desain baru KLM, bank berpotensi memperoleh insentif Giro Wajib Minimum (GWM) maksimal 6 persen dari dana pihak ketiga (DPK), apabila memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan BI.

Curated For You

Editorial Team

Related Article