Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo Bukan Jadi Alasan Investor Asing Angkat Kaki dari Indonesia

Demo Bukan Jadi Alasan Investor Asing Angkat Kaki dari Indonesia
Ilustrasi Investasi (Pexels)
  • ASPEBINDO menilai demonstrasi tidak otomatis membuat investor asing membatalkan investasi, karena mereka turut menilai pengelolaan keamanan, kepastian hukum, komunikasi pemerintah, dan kelangsungan ekonomi.
  • Risiko investasi meningkat bila aksi berubah menjadi ketidakstabilan berkepanjangan, mengganggu logistik serta rantai pasok, atau diiringi kebijakan tidak konsisten dan lemahnya kepastian hukum.
  • Meredanya demonstrasi dinilai mengurangi kekhawatiran risiko domestik dan berpotensi mendorong rupiah menguat terhadap dolar AS, meski penguatannya diperkirakan terbatas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) menyebut aksi demonstrasi yang digelar kemarin tidak serta merta membuat investor asing membatalkan keputusan investasinya di Indonesia. Investor dinilai memahami bahwa demonstrasi merupakan bagian dari dinamika demokrasi.

Ketua ASPEBINDO, Anggawira menjelaskan investor pada dasarnya tidak hanya melihat besarnya jumlah massa dalam sebuah aksi demonstrasi. Mereka juga mencermati bagaimana pemerintah dan aparat mengelola keamanan, menjaga kepastian hukum, serta memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Risiko terhadap investasi baru akan meningkat apabila demonstrasi berkembang menjadi ketidakstabilan berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas ekonomi, rantai pasok dan logistik, hingga menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan pemerintah.

"Risiko meningkat apabila demonstrasi berkembang menjadi ketidakstabilan berkepanjangan, menimbulkan gangguan logistik, atau direspons dengan kebijakan yang tidak konsisten. Investor tidak hanya melihat jumlah massa, tetapi juga kualitas pengelolaan keamanan, komunikasi pemerintah, kepastian hukum, dan kemampuan negara menjaga aktivitas ekonomi," tegasnya kepada IDN Times, Jumat (28/8/2026).

  1. 1. Ketidakpastian yang meningkat bisa buat investor kabur dari Indonesia

    ilustrasi investasi saham
    ilustrasi investasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

    Karena itu, pemerintah dan aparat keamanan dinilai perlu mengedepankan pendekatan yang persuasif dan proporsional dalam menangani aksi demonstrasi. Di sisi lain, penyelenggara aksi juga perlu memastikan penyampaian aspirasi dilakukan secara damai.

    Dalam jangka pendek, aksi demonstrasi yang berlangsung di sejumlah wilayah biasanya memberikan dampak operasional terhadap dunia usaha. Dampaknya antara lain kemacetan, perubahan rute distribusi, penurunan kunjungan ke pusat-pusat usaha di sekitar lokasi aksi, serta penyesuaian jam kerja.

    Namun, dampak jangka menengah hingga panjang baru berpotensi muncul apabila ketegangan berlangsung terus-menerus dan tidak tersedia kanal dialog yang efektif antara pemerintah dan masyarakat.

    "Ketidakpastian juga dapat meningkat apabila pelaku usaha dan investor melihat adanya perubahan arah kebijakan yang tidak konsisten atau lemahnya kepastian hukum," ucapnya.

  2. 2. Stabilitas politik dan ekonomi dibutuhkan dunia usaha

    Ilustrasi investasi obligasi sebagai instrumen keuangan untuk menempatkan dana dan memperoleh imbal hasil.
    ilustrasi investasi obligasi (pexels.com/Leeloo The First)

    Dengan demikian, stabilitas yang dibutuhkan dunia usaha bukan berarti menghilangkan ruang kritik dan demonstrasi. Yang lebih penting adalah memastikan proses demokrasi tetap berjalan tanpa mengganggu keberlangsungan kegiatan ekonomi.

    Pemerintah perlu memberikan respons yang jelas terhadap aspirasi masyarakat, peserta aksi menyampaikan tuntutan secara damai, sementara aparat menjaga keamanan secara humanis dan terukur.

    "Bagi investor, yang menjadi perhatian bukan sekedar ada atau tidaknya demonstrasi, melainkan apakah Indonesia mampu menjaga demokrasi tetap berjalan beriringan dengan kepastian hukum dan stabilitas kegiatan ekonomi," tegasnya.

  3. 3. Meredanya demo kurangi kekhawatiran investor

    ilustrasi investasi
    ilustrasi investasi (magnific.com/rawpixel.com)

    Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Meredanya aksi demonstrasi menjadi salah satu sentimen positif bagi pergerakan rupiah.

    Ia mengatakan, berakhirnya demo dapat mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko domestik. Namun, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas.

    "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul berakhirnya demo kemarin. Namun penguatan diperkirakan terbatas," ujar Lukman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More